Senin, 13 Desember 2010

Sebuah Tanya


Apa yang harus aku lakukan? Serasa waktu berhenti dan aku semakin terdiam. Aku semakin terpojok dalam sudut kehidupan. Terbelenggu dalam keraguan dan ketakutan. Sungguh tak pernah aku merasakan setakut ini. Hatiku serasa diaduk oleh persoalan dunia. Tak sedikitpun aku berkutik. Kenyataanya aku terus terdiam, tak ada lagi keluh ataupun teriakan. Bahkan aku hanya menatap hampa di depanku. Segala fatamorgana yang kerap diagungkan para pencari dunia. Aku tak tahu harus berbuat apa. Seakan semua menusukku tanpa bisa kulawan. Serasa semua menancapkan belati pada hatiku yang telah terluka. Aku terluka, takut dan begitu tak berarti.

Sudah semestinya aku teriakkan kepedihanku ini. Berharap mimpi-mimpiku yang telah hancur itu kembali. Namun semua masih tetap sama. Seperti dunia yang kini menatapku dengan cemoohan. Aku tak bisa bergerak, menikmati rasa sakit yang kian perih. Aku tak tahu harus berbuat apa. Semestinya aku berpaling dari sedih ini, mencoba berjalan kembali menyusuri mimpiku. Namun mimpi yang mana, semua terlarut dalam kepedihan dan hancur oleh fatamorgana dunia.

Aku pernah bermimpi. Menyusun mimpi itu begitu indah. Seperti menyusun gugusan bintang di langit hingga yang menatapnya akan merasakan damai. Namun dalam sekejap mimpi itu hancur berkeping-keping. Dalam sekejap mimpi itu menusuk hatiku yang rapuh. Aku takut bermimpi kembali, terasa semua tersia begitu saja. Aku bahkan telah melewatkan segala ceria yang dulu selalu bersamaku. Aku melewatkan keteguhan yang dulu selalu meyelimutiku. Aku telah meninggalkan semuanya. Sekalipun ragaku masih mampu merasakan sakitnya, namun jiwaku telah terbebas dan pergi entah ke mana. Sungguh, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Malam masih menyisakan hening. Ketika jiwaku kembali memasuki ragaku. Aku masih terdiam. Putaran sang waktu tak mampu menghapuskan keperihan ini. Entah apa yang akan terjadi. Semuanya begitu gelap di mataku dan hatiku tak mampu merasakan cinta itu. Aku telah kehilangan diriku, aku takut. Air dingin kurasakan mengalir di wajahku, ada kesejukan muncul di hati kecilku. Namun aku tahu airmataku juga turut mengalir bersama air yang membasuh wajahku. Aku bisa merasakan kepedihan itu kian mengiris hati. Aku bisa merasakan kehampaan itu kian nyata. Sungguh bahkan aku tak berkutik atas apa yang tengah terjadi. Ketika air itu membasuh kedua tanganku, aku merasakan ketakutanku semakin menjadi. Bergetarlah tubuhku mengikuti getaran hatiku yang tak menentu. Ketika air itu mengenai rambut dan telingaku seraya aku mendengar lagu alam kian mendayu. Aku masih bisa merasakan airmata yang terus mengalir. Mengapa demikian pedih terasa di hatiku, mengapa demikian luka menusuk sukmaku. Dan ketika air itu membasuh kakiku, ada sepercik cahaya menelusup jantungku. Berharap semoga tak ada yang menyakitkan diri. Getaran tubuhku mereda, hatiku kian luluh. Suara sang malam merangkulku, dalam kepenatan dan berat hati.

Airmata itu masih mengalir ketika kubersujud. Seakan seluruh alam hening, tunduk pada cahaya malam. Seakan seluruh jiwa berpadu menyelusuri kehidupan. Seakan tubuh dan jiwaku tak bersatu. Seakan semuanya menghilang ditelan malam. Aku bisa merasakan suara hati yang kian merintih. Aku bisa merasakan kesunyian dalam pikiranku. Aku bisa merasakan kehampaan yang begitu nyata.

Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan. Segala tawaku lenyap, segala ceriaku terpendam jauh bersama mimpi-mimpiku. Berserakan sudah semua harapan. Lalu apa yang masih tersisa dari semua ini. Sang malam yang hening mungkin telah menertawaiku. Perih…. Semua ini kurasakan begitu perih. Terasa berat di kepalaku, ingin sekali aku terlelap. Ingin sekali aku menjumpai dunia mimpi tanpa kembali ke dunia nyata. Namun mata ini tak mampu terpejam. Dan airmata masih tak berhenti mengalir. Sebegitu parahkan luka di hatiku. Tak pernah aku merasakan hal seperti ini. Begitu terlukanya, hingga tak ada satu suarapun terdengar dari bibirku. Hanya istighfar yang kerap kali terucap dari hati. Begitu agungnya Sang Maha Cinta menciptakan dunia. Begitu sempurna Sang Maha Esa menciptakan diriku.

Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Itu janji Sang Maha Asih…. Semestinya hatiku mampu percaya. Duhai Sang Maha Cinta, hanya padaMu segala ini dikembalikan. Saat ini, di saat seluruh jiwa ragaku hening, kuserahkan semua keputusan padaMu. Dan aku percaya hanya Engkau yang mampu menghapus airmata dan kepedihan ini.

Apa yang harus aku lakukan?

Penantian Cinta sang Akhwat


Kali ini telah habis dayaku untuk menanti. Serasa waktu bergulir begitu saja menorehkan luka di dalam hati. Entah mengapa saat bertemu dengannya malah membuat hatiku terluka. Semestinya aku telah bisa mengikhlaskan apa yang tengah terjadi. Ketika dia tak mampu menaruh kepercayaan padaku.

Kali ini aku lelah berharap. Mencoba mengalihkan pemikiranku dari apa yang kuinginkan. Terus ku berlari tanpa mengetahui arah tujuanku. Hingga lelah terasa begitu nyata dalam napasku. Aku beralih dan berlalu, tanpa peduli apa yang kini menantiku. Aku sungguh enggan untuk menunggu.

Serasa dunia menertawaiku. Aku yang terlalu memegang teguh agama Allah. Aku yang tengah menunggu keajaiban dari-Nya. Aku yang tengah menanti jawaban-Nya. Serasa dunia tak peduli akan tangisku, akan kepedihanku. Aku tak sanggup lagi bertahan. Menyembunyikan rasa perih hatiku yang kian terluka. Ingin kuteriakkan namun bibirku hanya terdiam, sementara airmataku menetes begitu saja. Tiap detik, tiap menit, aku terus berharap keajaiban itu akan tiba.

Aku sungguh tak ingin menyakiti siapapun. Aku juga tak mampu berpaling dari Allah. Ketika semua menatapku penuh tanya, aku hanya terdiam. Aku sudah tak mampu bicarakan lagi. Mimpi-mimpiku serasa dihancurkan begitu saja oleh kenyataan. Ataukah aku yang terlalu berharap?

Aku terus menanti keajaiban itu. Sekalipun detik demi detik tidak terbebas oleh tangisku. Aku yakin suatu saat nanti aku dapat tersenyum bangga. Dengan keteguhan iman yang selalu kujaga. Dengan balutan islam yang selalu kuperjuangkan. Aku kan menyerukan pada dunia, begitu besar cinta Allah pada makhluk yang kerap menjaga agama-Nya. Allah tidak akan mengingkari janji, bukan?

Mengapa aku masih merasakan sepi. Ketika tak ada lagi inginku atas fatamorgana dunia. Aku hanya inginkan rahmat kasih Allah yang kelak mendamaikan hatiku. Aku hanya percaya bahwa tulang rusuk takkan tertukar. Allah telah menyiapkan yang terbaik untukku. Aku mestinya percaya, aku mestinya tak gundah hati.

Ya Rabb, dengan segala kekurangan dan kelemahan kubersujud di hadapanMu. Dan setiap malam takkan berhenti untuk berjumpa denganMu. Yang dengan keterbatasan ini mencoba untuk terus mencintaiMu. Ya Rabb, terangilah hatiku dengan cahayaMu, sungguh kutak sanggup menjalani kehidupan ini tanpa rahmat dan cintaMu.

Ya Rabb, kehidupanku ini kian sepi. Berikanlah pendamping hidup untukku, seorang yang juga mencintaiMu. Seorang yang bisa menerima segala keterbatasanku. Seorang dengan cahaya iman islam dan takkan berpaling dariMu. Seorang yang bisa membawa keluarga kami menuju surgaMu. Seorang yang tulus untuk mencintai, seorang yang penuh kasih sayang, dan seorang yang mampu memberikan kebahagiaan bagi keluarga.

Ya Rabb, izinkanku menjadi wanita shalihah yang kerap mendampingi suami berjalan di jalanMu, Izinkanku menjadi ibu yang sempurna untuk putra-putriku. Sesungguhnya tiada daya dan upaya melainkan kehendakMu. Berikan keteguhan di setiap langkahku menegakkan syariat islam.

Ya Rabb, aku tahu hatiku tengah terluka. Sembuhkanlah luka ini, hapuskanlah setiap tetes airmata yang mengalir. Basuhlah segala kepedihan dengan kasihMu. Aku menanti, dan terus menunggu jawaban ini dariMu ya Rabb. Sungguh aku tak berdaya, dan hanya kepadaMu segala ini kukembalikan. Jiwa, raga, harta dan apapun yang ada ini adalah milikMu. Ya Rabb, kupasrahkan hatiku padaMu.

Ya Rabb, kabulkanlah doaku ini. Ampunilah segala khilaf dan salahku.
Amin ya Rabbal Alamin

Rabu, 08 Desember 2010

Jangan Menangis Untukku



Kali ini membuatku semakin menangis. Janganlah kau teteskan air mata karena aku, karena aku akan semakin berduka. Aku tahu aku merasa sangat sendiri. Aku tahu aku terluka, tapi kumohon jangan menangis.

Beralih sang waktu menembus ragaku yang masih terpaku. Fatamorgana apa lagi yang kini ada di hadapanku. Bukankah aku telah menyingkirkan segala impian yang tak mungkin terjadi. Aku berpikir tak lagi terluka oleh segala mimpi-mimpiku. Namun ternyata aku salah. Alam ini memang nyata tapi fatamorgana itu belum juga lenyap.

Kususuri keteguhan hati yang semakin terelakkan. Aku ingin sekali bersembunyi, namun tak ada tempat untuk sembunyi. Aku terus menangis. Bahkan terasa begitu mendalam segala kepedihan ini. Sungguh aku tak ingin sendiri. Aku benci kesendirian ini. Terlalu sepi. Mungkin sama seperti yang kau pikirkan. Hingga airmata jatuh di pipimu. Lalu kau hapus airmata itu saat aku menatapmu. Aku tahu hatimu terlalu rapuh untuk percaya, aku berusaha untuk tangguh.

Mungkin kau berpikir bagaimana cara mambuatku tertawa. Hingga aku tertawa bersamamu, tapi kau masih mampu merasakan kepura-puraan itu. Sama halnya ketika aku mampu merasakan kepura-puraanmu. Hati kita terlalu rapuh, percayakah dirimu?

Sekilas tatapanmu membuatku merasa bersyukur ada yang mengerti akan kisahku. Sekalipun hatiku terus menolak siapapun yang masuk dalam kehidupanku. Aku tak ingin mereka tahu, aku tak ingin mereka mengerti. Aku hanya ingin Allah yang tahu. Tapi ternyata hatimu bisa membaca hatiku. Dan kau tetap menangis untukku. Aku semakin lemah, dan mungkin telah terjatuh begitu dalam.

Jangan menangis untukku. Aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama. Namun kini mungkin kau telah bahagia bersama bidadarimu. Dan kau berdoa semoga kelak aku tak sendiri lagi. Tahukah bahwa tawaku saat itu adalah tangisku. Tahukah dirimu bahwa ucapan 'iya' itu sendiri tak bisa meyakinkan hatiku. Aku terlalu sedih untuk tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi padaku. Apakah sekedar bukti cinta dari Allah agar aku menjadi pribadi yang tangguh. Namun sampai kapan?

Ya Rabb, sungguh aku tak ingin menyalahkan atas kisah yang tertulis untukku. Aku bersyukur menjadi pribadi yang penuh cinta iman dan islam. Aku bersyukur menjadi pribadi yang kerap bersujud di tengah hening malam. Aku bersyukur menjadi pribadi yang tak mampu berpaling dari ayat-ayat Al Qur’an. Aku bersyukur atas orang-orang yang ada di sekitarku.

Tapi kali ini aku tak mampu lagi berkutik, aku terdiam. Seolah menunggu waktu memutuskan apa yang akan terjadi. Aku merasakan kekosongan tak berhingga. Aku merasakan sepi tak terbatas. Aku hanya ingin tersenyum dalam tiap detikku. Aku hanya ingin membuat orang-orang di sekitarku tersenyum bahagia. Apakah itu terlalu berlebihan?

Ya Rabb, seandainya mampu aku berucap. Hilangkanlah fatamorgana ini dari kehidupanku. Aku tak ingin terluka kembali. Aku tak ingin merasakan sakit tak menentu seperti ini.

Ya Rabb, tegarkan aku dalam setiap langkahku….
Ya Rabb, sabarkan aku dalam setiap ikhtiarku….
Karena hanya Allah tempatku berteduh, semoga segala cinta ini kerap berlabuh pada Allah.

Dan jangan lagi menangis karenaku. Aku tak ada maksud untuk menyakitimu. Dan semoga Allah mendengar doa kita, hingga tiada lagi airmata. Semoga Allah menjadikan cinta ini cinta yang hakiki kepada-Nya. Amin ya Rabb….

Senin, 29 November 2010

Airmata sang Tangguh


Semua jadi terbalik … aku bahkan tak mengerti harus bersikap seperti apa lagi. Serasa airmata telah mengakrabi tiap malamku. Mana seorang Eka yang tangguh, mana seorang Eka yang hebat. Seakan semua menghanyutkanku dalam ketiadaan. Aku pernah merasa tak berdaya tapi aku tak pernah merasa terluka seperti ini. Terasa berat dalam hatiku. Ada sepercik amarah, namun aku tak tahu harus menujukan ke siapa. Bukankah tak ada yang bersalah padaku.

Ini bukan kisah yang aku tulis. Yang aku bayangkan dengan begitu indahnya. Meski aku tahu itu hanyalah sebuah mimpi bagiku. Aku bahkan tak ingin terbangun. Aku benar-benar letih dalam ketidak beradayaanku. Aku merindukan-Mu. Aku ingin berjumpa dengan-Mu. Untuk malam ini dan malam-malam di mana hatiku masih merasakan galau. Aku benar-benar telah menyiksa hatiku sendiri. Sungguh bodoh…..

Kini aku hanya mampu tertunduk dalam kebisuan. Buat apa aku meminta lagi. Tak ada yang bisa mendengarku. Tak ada yang peduli hadirku. Lalu mengapa aku mesti bertahan. Lelah diri dan hati tak mampu lagi kututupi. Benar-benar percuma segala pengorbanan selama ini. Cuma Allah yang mampu mengerti, Cuma Dia yang bisa melihatku. Bahkan kedua orangtuaku pun tak bisa menatapku. Aku hanya ada dibalik ketiadaan. Aku hanya tersisa dalam ketiadaan. Aku hanya berpikir dalam kekosongan. Aku hanyalah mimpi yang tak pernah nyata. Aku hanyalah setitik noda kecil dari langit-Nya. Bahkan aku tak mampu berteriak untuk menyisakan kesalku.

Mungkin hanya sekian kisah ini kutulis. Dalam teriakku amarah membelenggu. Setiap helaan napas bagaikan denyut jantung yang melambat. Lalu takkan ada lagi yang dibanggakan. Ayat-ayat suci-Nya masih menemaniku, namun masih terasa kehampaan itu. Pantaskah aku percaya kembali apa yang telah mereka ucapkan. Bahkan tawaku pun telah lenyap atas dusta yang ada.

Hari ini, esok adalah rahasia-Nya. Meski aku mecoba meminta, meski aku mencoba bicara namun semua tampak kaku tak bergerak. Aku tak lagi tangguh. Aku tak lagi wanita hebat yang bisa memberikan senyum pada setiap orang. Aku tak lagi wanita cerdas yang mampu memberi kebahagiaan. Aku tak lagi ada dalam pandangan.

Sungguh ingin rasanya aku akhiri segala airmata ini. Airmata yang kerap menemani kisah kehidupanku. Mengapa hanya aku yang berbeda dari mereka. Yang mencoba bertahan untuk orang lain. Yang mencoba berjuang demi kebahagiaan orang lain. Namun tiada orang lain pedulikanku.

Bahkan hanya senyuman semu yang mereka berikan. Akankah ketulusan hati ini tetap ada. Jika semuanya telah tertindas oleh ketiadaan. Ya, aku ada dalam ketiadaan. Aku ada dalam kekosongan. Percuma ada tangis. Percuma ada airmata kembali. Sungguh takkan ada yang peduli.

Pantaskah senyum itu kembali lagi dalam kehidupanku. Pantaskah tawa itu kembali menerpaku. Aku sungguh-sungguh telah menyerah. Aku tak berdaya untuk memperjuangkan jalanku sendiri. Aku menyerah….aku mengaku kalah …di mana Eka yang dulu selalu bisa. Di mana Eka yang dulu selalu tersenyum bahagia. Mengapa kerap air mata yang ada. Apakah karena hatiku terlalu tulus untuk mencintai.

Ya Rabb, pemilikku…seandainya mampu kuminta untuk selalu bersama-Mu. Aku telah lelah untuk menjalani sendiri kehidupanku. Aku telah lelah untuk berjuang. Aku menyerah. Aku mengaku kalah. Benar-benar aku tak ada daya upaya untuk kembali bangkit.

Ya Rabb, pemilik alam… izinkan aku selalu bernaung dalam cinta-Mu. Aku tak sanggup sendirian lagi. Suatu kebohongan mereka bilang akan menemaniku. Suatu dusta ketika mereka mencoba menghiburku. Aku cukup rentan kali ini. Aku telah katakan aku kalah. Dan saat ini aku tak mau lagi berusaha bangkit. Percuma….

Ibu selalu bilang kalau semakin tinggi iman seseorang akan makin banyak cobaan yang datang. Tapi aku tidaklah setangguh dia. Sekalipun Ibu selalu bangga padaku. Ya, paling tidak aku bisa membuatnya tersenyum. Tapi Ibu, maaf kali ini aku tak bisa… izinkan aku menyerah.

Dulu, aku sering melihat bintang untuk menegarkan hatiku. Kisahku memang berbeda dengan yang lain. Lebih berwarna dan sering meruntuhkan airmata.

Tapi saat ini aku tak mau lagi melihat bintang seolah menaruh harapan di sana. Senyum bahagia tak lagi terlihat diantara senyuman para malaikat. Aku lelah…….

Ya Rabb, masukkan cahaya-Mu dalam hatiku hingga ketenangan merasuk di jiwaku. Tenangkanlah diriku dalam setiap langkah hidupku. Sabarkanlah aku dalam setiap tutur dan sapaku. Basuhlah diriku dengan kasih sayang-Mu. Jadikan aku prajurit yang senantiasa berjihad di jalan-Mu. Jadikanlah aku hamba yang selalu menegakkan agama-Mu. Tegarkanlah aku di setiap ujian yang Kau beri. Wafatkanlah aku dalam keadaan syahid dan khusnul khatimah. Izinkanlah aku bahagiakan kedua orang tuaku, menghajikan mereka, mengasihi mereka, menyayangi mereka. Bagiku mereka sangat berarti…..

Ya Rabb, lindungilah calon suamiku dari segala zina dan fitnah. Sucikanlah hatinya agar bisa melihat cahaya iman dari hatiku. Berilah cahaya cinta-Mu dalam setiap hela napasnya. Aku sangat menyayanginya. Berilah keteguhan hatinya untuk menegakkan agama-Mu. Dan mudahkanlah dia menemukanku. Meski dunia bukanlah tempat terindah, namun jadikan indah apa yang ada di dekatnya. Izinkan aku selalu menemaninya, menyayanginya, mencintainya, dan selalu ada untuknya di dunia dan di akhirat nanti.

Ya Rabb, hapuslah kesedihan dan kegundahan dalam hatiku karena aku tahu itu hanya bisikan syetan yang Kau kutuk. Hapuslah airmataku karena hanya Engkau yang mampu menghapusnya. Aku akan selalu mencintai-Mu. Dan hanya pada-Mu aku meminta dan berharap. Hanya pada-Mu segala pengabdian ini tertuju. Jangan jauhkan aku dari rahmat dan kasih-Mu. Aku mencintai-Mu.

Dan malam ini akan kunikmati cahaya bintang hingga muncul kedamaian dalam hatiku. Bukankah tak ada sesuatu yang tersia di dunia ini. Aku percaya….yang terbaik akan segera menghampiri. Inna ma’al usri yusro….sesungguhnya setelah kesulitan akan ada kemudahan, itu kan janji-Mu.

Ya Rabb, Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah Kau berikan padaku dan pada orang-orang yang mencintaiku………

Jakarta, 29 November 2010

Sabtu, 20 November 2010

Dalam Takbir Cinta


Novan baru saja ke luar dari musholla Baitul Ihsan. Lelaki berbusana batik merah itu terlihat segar dan tampak bersinar. Baru saja ia mendirikan sholat dhuha. Ia lanjutkan dengan dzikir dalam hatinya.
“Ya Rabb, jika dirinya memang jodohku maka berilah petunjuk-Mu” pikir Novan.

Listi menatap matahari yang baru saja terbit dari ufuk timur. Parasnya tampak pucat. Tidurnya semalam tak bisa nyenyak, ada hal yang dia pikirkan.
“Ya Rabb, jika memang dirinya bukan untukku maka jangan Kau buat hatiku mencintainya”
=====
Burung-burung beterbangan indah di langit. Menyiratkan kedamaian tak berhingga. Sementara semburat sinar sang surya diantara birunya langit. Semua tampak mengagungkan keindahannya. Pohon-pohon bergoyang pelan mengikuti lantunan sang angin. Suasana yang begitu sempurna untuk pagi hari nan indah.

Ini bukan pertama kalinya seluruh alam memuji-Nya. Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya melainkan Dia. Semua alam tunduk mengikuti titah-Nya. Matahari, bulan, bintang semua mengikuti orbit yang telah ada. Semua aturan tertulis dalam kitab suci-Nya, Al Qur’anul Kariim. Dan hati-hati tiap insan tiada yang dapat mengetahui melainkan Dia.

Apabila Allah telah mencintai seorang hamba maka Dia menyerukan kepada Malaikat Jibril bahwa Allah mencintai fulan maka cintalah dia. Maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril pun mengumumkan kepada penghuni langit, bahwa sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia. Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian dijadikan sambuta bagi orang itu di bumi (HR Bukhari)

Dan cinta-Nya tak bisa melebihi cinta yang lain. Seandainya saja tiap manusia mengetahui seberapa besar cinta dan rahmat Allah mungkin tak tak terbesit sedikitpun bagi mereka untuk meninggalkan-Nya. Bahkan untuk melakukan hal-hal yang dibenci oleh-Nya pun takkan bisa. Karena hati dan pikiran telah tertuju pada cinta suci tak berhingga pada-Nya.

“Izinkan aku selalu mencintai-Mu ya Rabb…” bisik Listi dalam hatinya. Entah mengapa kesunyian kerap menerkam jiwanya. Terus membelenggu dalam setiap kepingan kisahnya.
Listi menatap tegak kearah langit. Berusaha menahan air mata yang telah membasahi kornea matanya. Pikirannya masih tertuju pada sang langit yang terhampar luas. Mengisyaratkan kelapangan sang Pencipta. Sungguh luas tak berhingga segala cinta yang Dia miliki. Namun mengapa mesti ada airmata dan rasa sakit di dalam hatinya. Apa karena kehadiran seorang Novan.

Masih terbayang di ingatan Listi dan penolakannya atas lamaran seorang kawannya. Tentu saja bukan karena kehadiran seorang Novan. Bahkan saat itu belum ada seorang Novan hadir ke dalam kehidupannya.

Aku menuliskan ini untukmu, Abi…
Aku tak ingin mencintai lelaki selain dirimu.
Aku tak bisa melukai hati dengan menduakanmu.
Aku mempersembahkan hati ini untukmu, Abi…
Yang selama ini kujaga hanya untukmu.
Dan semoga Sang Illahi mengertikan kita.

=====


Novan menatap dirinya di cermin. Ada banyak tanya di hatinya yang harusnya dia sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Dengan memakai busana batik warna merah dia menatap tajam kearah cermin.

Apakah alasan wanita tersebut memberi perhatian lebih kepada Novan. Tak tahukah wanita itu bahwa hatinya masih menyimpan luka cinta di masalalunya. Tak bisakah wanita ini berhenti sejenak untuk member perhatian.

Apakah sebenarnya makna cinta. Jika ini diteruskan apakah tidak memungkinkan timbul fitnah?

Ada rasa nyeri di kaki sebelah kanannya. Membuat ia berhenti sejenak untuk memikirkan maksud kehadiran wanita tersebut dalam kehidupannya. Bukankah segala sesuatu di dunia ini telah diatur oleh Allah SWT. Kehidupan, kematian, rezeki bahkan jodoh semua telah diatur oleh-Nya. Mengapa kekhawatiran ini masih menyelimuti hati.
Bukankah selama ini hanya lantunan Al Qur’an yang menemani kesepian di malam-malamnya. Dan tahajud sebagai penolak sepi hatinya. Ingin hatinya menunaikan istikharah atas ta’aruf yang akan dia jalani. Tapi entah mengapa ketakutan hatinya menyurutkan nyalinya.

Lalu bagaimana jika wanita ini mencintainya? Sementara hati Novan masih begitu rapuh. Mengapa kehadirannya memberi percikan bahagia atas perhatian-perhatian kecilnya. Ketika Novan terkena DB bahkan ketika Novan mengalami kecelakaan saat akan berangkat kerja. Wanita itu tahu….
“Ya Rabb, tunjukkanlah jalan untukku. Jalan yang terbaik yang harus kutempuh…jangan biarkan hamba menyakiti hati siapapun. Amiiin”
Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis (An Najm : 43)
=====

Winata berjalan menuju meja tempat Listi bekerja.
“Insya Allah besok Lis…..”ucap Winata serya tersenyum.
Listi meringis
“Enggak usah grogi, biasa saja. Insya Allah, Ahmad ini cocok buat kamu”
“Insya Allah ya Mas”
“Semoga proses ta’aruf antara kamu dan Ahmad berjalan lancar. Tapi kamu tetep mesti istikharah loh Lis, minta petunjuk yang terbaik dari Allah”
“Insya Allah Mas…”
“Semangat ya Lis….jangan lesu gitu dunk”
“Hehe…”
“Satu lagi Lis, aku sebenarnya ragu buat menyampaikan ini. Tapi enggak enak juga kalau aku tidak ngomong sama kamu”
Listi tampak serius menatap Winata.
“Tentang Novan”
“Kenapa Mas Novan? Bukannya dia sudah sembuh dari sakitnya waktu kecelakaan seminggu lalu”
“Dia sempat tanya ke aku tentang kamu”
“Tanya apa Mas?”
“Apa aku dekat dengan kamu”
“Terus?”
“Aku jawab lumayan deket. Setahuku Listi cewek yang baik.”
“Terus?”
“Sudah. Itu saja. Aku seh sebenarnya heran kok tiba-tiba dia tanya kamu”
Listi tersenyum, “Ya, kan cuma nanya begituan ajah Mas”
“Boleh aku Tanya balik ke kamu?”
“Tanya apa Mas?”
“Seberapa dekat kamu sama Novan. Karena aku dengar dia sudah ta’aruf loh…. Atau jangan-jangan kamu bersedia ta’aruf dengan Ahmad karena tahu bahwa Novan sudah ta’aruf?”
“Tidak ada hubungannya dengan Novan. Selama ini aku jarang berhungan dengan Novan”
“Alhamdulillah kalau begitu.
“Insya Allah diniatkan karena ibadah. Memenuhi sunah Rasulullah”
“Hmmm… aku suka itu…boleh tanya lagi?”
“Waduh belum apa-apa sudah ditanya banyak sekali nih sama murobbinya Mas Ahmad”
“Hehe… pertanyaan sederhana sih. Waktu beberapa hari lalu aku sempat buka facebook, dan aku lihat ada fotomu berdua dengan cowok”
“Maksudnya Mas Indra?”
“Yup….”
“Dia teman On Job Training”
“Lain kali hati-hati ya Lis…nanti menimbulkan banyak fitnah”
“Iya Mas….”
“Oke. Disiapin ya buat besok….Hehe”
“Insya Allah Mas”
Listi menatap layar monitor computer di hadapannya. Hatinya bergolak tak menentu.
“Semoga Allah memberikan kemudahan untuk hamba-Nya yang selalu berusaha untuk berjalan di jalan-Nya. Amiiin….”

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama-Nya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (Al Hajj : 40)
=====

“Bismillahir rahmanir rahiim, Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Rabb, mudahkanlah urusanku ini” gumam Listi.
“Afwan… assalamualaikum Ukhti” sapa Ahmad santun.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” sahut Listi.
“Alhamdulillah kita dipertemukan di sini dalam keadaan sehat wal’afiyat. Jazakumullah untuk Mas Winata dan Rahma yang telah membantu saya dan Listi dalam persiapan proses ta’aruf ini. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam setiap langkah kita yang diniatkan untuk beribadah kepada-Nya.” Lanjut Ahmad.
“Amiin….” Sahut Listi
Ruangan berukuran 2 m x 3 m tampak begitu tenang.
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan kerunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui, An Nuur ayat tiga puluh dua. ” kata Winata, “Saya beserta Rahma di sini hanyalah fasilitator dalam forum perkenalan antara Listi dan Ahmad. Unuk kelanjutan dari proses ta’aruf ini sangat tergantung pada masing-masing pihak. Dan istikharah akan menjawab segala keraguan yang ada”
“Jazakumullah untuk Mas Winata dan Rahma, semoga amal kebaikan kalian mendapat balasan dari Allah.” Kata Listi.

Tut…tut…ponsel Listi berdering.
Message from : Nandia Maharani
Lis, info baru…. Novan kecelakaan, dia jatuh dari motor. Dan hampir tertabrak bus. Tidak tahu gimana kondisinya sekarang”
“Afwan…boleh izin sebentar” ucap Listi.
=====


Listi menatap bayangannya di cermin. Parasnya tampak bahagia. Dua hari yang lalu sejak terjadi kecelakaan yang menimpa Novan membuat dirinya makin mantap untuk membuat keputusan.

“Hmm…yang mau jadi pengantin. Suka senyum-senyum sendiri sekarang” goda Rahma.
“Iya dunk Rahma. Kan biar cepet nyusul kamu”
“Selamat ya Lis…”
“Alhamdulillah. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya”
“Yup…aku juga tidak pernah mengira”
“Semoga ini jalan yang terbaik untuk aku ya…”
“Amiiin. Nanti kamu masih jenguk Mas Novan?”
“Insya Allah jenguk…”
“Cieh…cieh….”
“Hehe….”
“Lis…”
“Yup…”
“Semoga acaranya nanti berjalan lancar. Jadi bulan depan kan akadnya?”
“Iya…”
“Aw…aw…aw… this is called under control”
“Manusia hanya bisa merencanakan. Allah-lah yang memutuskan apa yang kelak terjadi”
“Kehidupan, kematian, rezeki dan jodoh semua menjadi hak prerogative Allah”
“Kita hanya bisa berikhtiar lalu bertawakal pada-Nya”
“Wah makin bijak saja kita ini”
“Hmm…bisa dikatakan telah terlatih oleh berjalannya waktu”
=====


Listi tersenyum malu saat menatap sang suami. Sementara para tamu undangan tidak kunjung berhenti member ucapan selamat kepada mereka berdua.

“Masih berasa aneh ya Lis?”
“Iya Mas…”
Novan menatap kedua mempelai, “Wah parah kamu Ndra…nyusul aku”
“Hehe…habisnya Mas Novan kelamaan ngasih undangan”
“Selamat ya Lis….”
“Makasih ya Mas Novan telah bersedia datang ke Surabaya. Saya pikir Mas Novan masih sibuk ngurusi unit blok dua yang rencana start minggu ini”
“Sudah aku wakilkan Dek”
“Ya baguslah…jangan lembur terus, entar sakit lagi”
“Makasih atas perhatiannya Dek”
“Sama-sama Mas”

Di belakang Novan, Winata tampak datang bersama Ahmad. Lelaki bernama Ahmad tampak anggun dengan busana batiknya.
“Selamat ya Lis…semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah” ucap Winata
“Terimakasih Mas Winata. Mohon maaf karena tidak sesuai dengan keinginan Mas Win” jawab Listi
“Loh…jodoh sudah ada yang atur…ya kan Ahmad?” sahut Winata
“Hehe….” Listi meringis.
“Loh…ini yang bernama Indra. Padahal satu wilayah kerja, tapi kok aku gak pernah ketemu ya. Aku tahunya malah dari foto kalian berdua di facebook” sahut Winata.
“Itu foto iseng jepretan teman-teman kontrakan” sahut Indra.
“Tapi bisa jadi kenyataan” sahut Winata.
Indra dan Listi tersenyum simpul.
Indra menatap paras isterinya, “Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa….” (Al Furqon : 74)“ Amiiinnn” sahut Listi.

Jakarta, November 2010
Penulis : Eka S

Selasa, 05 Oktober 2010

Inspirasi dari Surat Al Fatihah


1. Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Diawali dengan menyebut nama Allah yang maha Pemurah lagi Maha penyayang. Dari Allah SWT kehidupan berasal dan akan kembali kepada Allah. Allah Maha Besar yang memberikan gerak kehidupan pada makhluk-Nya, munculkan wawasan dan kesadaran tauhid.
Engkaulah tujuan tauhid kami, Engkaulah sumber Kemurahan tak terbatas dan Maha Kasih Sayang-Mu dambaan harapan kami. Sesuatu ada dan bergerak karena Engkau dan akan kembali pada-Mu ya Allah. Terhujam VISI sukses kami.

2. Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Tuhan yang telah menciptakan alam semesta bukti keberadaan-Mu dan bukti kasih saying-Mu terhadap makhluk-Mu. Engkau ciptakan segala sesuatu ya Allah. Engkau memelihara, Engkau mendidik kami, sehingga sempurnalah anugerah nikmat-Mu yang dapat kami rasakan. Membina, mendidik dan memelihara agar hamba sempurna mendapat anugerah-Mu. Itu semua menumbuhkan rasa kesyukuran dan kesadaran bagi hamba untuk terus mendekat dan sujud pada-Mu. Sungguh besar karunia Allah. Kami bersyukur atas segala anugerah potensi dan fasilitas serta segala kenikmatan yang tak terhitung. Sehingga berkembang POTENSI sukses kami.

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Kesadaran betapa Maha Pemurah dan penyayangnya Allah yang memberikan peluang dan kesempatan. Memberikan fitrah pada manusia berupa sifat luhur pemurah dan penyayang yang melekat pada hamba-Nya yang harus diwujudkan dan dijalankan dalam segala amal oleh hamba-Nya.
Atas kemurahan-Mu, kasih sayang-Mu tambahkanlah kami wawasan, kefahaman, kesadaran dan hikmah. Agar kami dapat mengambil peluang berlipat ganda, sempurnakan anugerah curahan nikmat-Mu. Engkau beri kami kehidupan, kesempatan, ujian dan cobaan untuk meningkatkan derajat kami dan betapa besar samudera ampunan dan rahmat-Mu. Terbuka PELUANG sukses kami.

4. Yang menguasai di Hari Pembalasan
Betapa kuasa Allah, Maha Raja yang menguasai kehidupan dan akhir hamba-Nya. Allah yang maha Kuasa unuk memberikan balasan segala amal hamba-Nya. Ridho, rahmat, pembalasan yang baik dan pahala surge harapan kami. Akhiratlah balasan sempurna amalan kami. Engkau berikan pahala surge dan ancaman neraka agar kami dapat memilih jalan yang terbaik. Itulah sumber MOTIVASI sukses dalam setiap langkah kami.

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan
Jadikan kami seorang hamba yang senantiasa pandai mengabdi kepada-Mu. Berilah kami pertolongan pada segala sisi kehidupan kami, sehingga kami dapat menjalankan amanah-Mu. Kami menyadari diri ini sebagai hamba yang lemah, kami pasrahkan diri pada-Mu. Bantulah kami dalam menjalani kehidupan ini sesuai kehendak-Mu. Sebagai hamba-Mu kami berserah diri memohon pertolongan agar kami dapat berperan dalam hidup ini untuk kebahagiaan kami dan bermanfaat bagi sesame makhluk-Mu dalam rangka menunaikan perintah-Mu. Kami menyadari inilah tekad MISI sukses kami.

6. Tunjukilah jalan kami yang lurus
Berilah kami hidayah dan petunjuk-Mu, yang menjadi panduan kami untuk meniti jalan lurus-Mu, agar kami selamat di perjalanan hingga akhir tujuan kami yang Engkau ridhoi. Sungguh kami memerlukan petunjuk dan pedoman dalam kehidupan kami.
Engkau bimbing kami dengan tuntunan-Mu dan berpedoman Al Qur’an. Inilah jalan lurus yang kami yakini akan mengantarkan kami pada tujuan yang hakiki. Itulah pilihan STRATEGI sukses kami.

7. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat
Betapa besar keinginan hamba agar memperoleh nikmat di perjalanan dan di akhir nanti. Perjalanan yang harus dilalui tidaklah mudah. Engkau telah mengutus seorang Muhammad untuk menjadi pemandu. Mengikuti orang yang dianugerahi nikmat, mengikuti barisan mereka yang pasti sukses yaitu para Nabi, orang yang dipercaya, para pejuang kebenaran dan orang-orang sholeh. Dan tidak mengikuti jalan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat. Inilah GERAK sukses kami.

Asa Dalam Cinta


Kali ini telah hilang dayaku. Aku tak memiliki lagi kekuatan itu. Aku menyerah. Aku tak berdaya untuk berjuang lagi. Ini terlampau menyakitkan. Aku terlalu tulus untuk mencintai. Dan semua itu kini tak berarti. Bahkan airmata yang selama ini menetes dari mataku seakan terbuang sia-sia.


Kali ini ketakutan menyergapku. Membawaku dalam keputusasaan. Perlahan kelam hitam menghantui perasaanku. Bagaimana aku bisa merasakan payah tak berkesudahan, padahal dulu aku terlampau ceria. Aku tak pernah berpikir akan menangis tersedu seperti ini. Aku tak pernah memnbayangkan aku terlampau terluka. Aku tak pernah menginginkan kesedihan ini mengiringi langkahku.


Aku terlalu cinta. Aku terlalu terluka. Aku terlalu kecewa. Aku memang keterlaluan, meletakkan harapan diantara keajaiban. Padahal hanya kasih Tuhan yang membuatku bertahan. Entah sekarang aku masih mampu untuk bertahan atau aku akan berlari.


Ya Rabb, kini aku serahkan semua hatiku. Karena aku tak ingin menodai cinta ini. Saat menulis ini mungkin airmataku tak berhenti mengalir, seperti aliran sungai yang bermuara. Aku takut, aku terlampau takut kehilangan cinta suci ini. Bukankah semua yang Kau ciptakan ini tiada yang tersia. Lalu mengapa hatiku masih merasakan duka ini. Tak bisakah hamba-Mu yang hina ini berucap syukur atas apa yang terjadi. Bukankah telah Engkau tuliskan yang terbaik untukku. Mengapa tiada kesabaran diri untuk menanti.
=====

Mentari bersinar cerah saat aku menghampiri ibu tua di pinggiran jalan. Wajah sayunya tampak begitu letih. Dengan senyum tulusku menghampirinya. Ini ritual yang biasa aku lakukan di akhir minggu. Aku yang tidak mempunyai sanak saudara di kota sebesar Jakarta ini sering merasa kesepian.


Jujur aku merindukan saat-saat manis di Surabaya. Tiap akhir minggu aku selalu disibukkan oleh jadwal mengajarku. Sebagai tentor les privat, aku sangat menikmati hari-hariku. Aku merasa kehadiranku sangat berarti. Aku mendapatkan semangat, aku sangat bahagia. Sebelum akhirnya aku harus meninggalkan Surabaya, untuk menikmati udara Jakarta. Aku meridukan saat-saat mereka memerlukanku, mengharapkan kehadiranku. Namun kali ini hidupku hanya seperti rutinitas. Aku berangkat kantor pagi hari dan pulang malam dengan kepayahan.


Aku merindukan bocah-bocah kecil yang kerap meramaikan rumahku. Aku yang mengajari mereka menyanyi, membaca iqro’, belajar membaca, dan belajar mewarnai. Aku yang sering mendengar celoteh lugu mereka. Aku yang menggendong mereka ketika mereka mengangis. Kini semua hanya menjadi kisah kenangan di hidupku. Sungguh, aku merindukan saat-saat indah tersebut.


”Makasih Neng” ucap ibu tua itu padaku.
Aku tersenyum pada ibu tua itu, entah mengapa hatiku sekarang sangat mudah tersentuh. Aku meneteskan airmata ketika ibu tua tersebut segera makan roti bungkus yang kuberikan. Aku tak bisa berbuat banyak dengan melihat banyaknya tunawisma dan tunakarya di negaraku. aku hanya bisa membuat mereka tersenyum sementara waktu, melupakan lapar perut mereka sejenak. Aku tak bisa berbuat banyak.


Aku terus berjalan menyusuri jalan muara angke. Aku sangat menikmati pasar tradisional dengan becek di mana-mana. Bagiku ini adalah pengalaman nan indah, mengingat saat ini sudah jarang ada pasar tradisional, semua telah disulap menjadi mall. Padahal di pasar muara angke ini aku bisa melihat kesederhanaan yang nyata. Aku melihat bocah-bocah kecil dengan keterbatasan penampilan mereka. Tak ada yang berlebihan layaknya orang-orang yang sering mengunjungi mall.


Aku bisa menemukan diriku di sini, di keterbatasan yang dimiliki banyak orang. Sekalipun mungkin banyak yang mengira hidupku sekarang dilimpahi kemewahan, karena pekerjaanku sekarang yang berstatus pegawai di perusahaan listrik negara. Namun aku masih trenyuh oleh kesederhanaan, karena memang sejak kecil aku hidup dalam kesederhanaan.


Saat menyusuri jalan muara angke, aku bisa merasakan tangis batinku yang masih belum reda. Sejak tadi malam aku menangis, aku mengadukan semua kebuncahan hatiku pada Sang Pemilik Hati. Bibirku mengkin menyunggingkan senyum namun hatiku terus menangis. Aku kerap menangis karena kesendirianku. Aku terlampau lelah untuk sendiri. Aku terlampau lemah untuk sepi.


Sesampai di blok kontrakanku ada seorang ibu-ibu sedang menyapu halaman rumahnya. Kaget juga diriku disapa olehnya. Jujur perasaan hatiku sangat kacau. Aku masih dirundung kesedihan.


”Pagi mbak....dari pasar ya?”
”Inggih Bu (Iya Bu)”
”Tinggal di mana mbak?”
”Blok C Bu”
”Oh ya? Kok aku gak pernah lihat mbak ya?”
”Menawi mboten nyambut damel kula mlampah-mlampah teng pasar Muara Angke kok Bu. Kula teng mriki sampun dangu, saking November taun kala wingi. (Tiap libur saya selalu jalan-jalan ke pasar muara angke kok Bu. Saya di sini sudah cukup lama, mulai November tahun kemarin)”
”Kerja di mana mbak?”
”Taksih magang Bu teng PLTU. Insya Allah saking September mangke kula sampun dados pegawai. (Masih magang Bu di PLTU. Insya Allah mulai September nanti statusnya sudah pegawai).”
”Oh ya? Wah hebat dong, aslinya mana mbak?”
”Saking Surabaya Bu (dari Surabaya Bu).”
”Kok bisa ngomong halus ya? Aku dari Surabaya juga loh mbak. Tapi aku gak bisa ngomong sehalus mbak. Malah tadi aku pikir mbak orang daerah tengahan”
”Oh mboten Bu, kula sakng Surabaya. Ibu Surabaya daerah pundi? (Oh nggak Bu saya dari Surabaya. Ibu Surabaya daerah mana?)”
”Ketintang. Mbak?”
”Kula celak kalian FK Unair (Saya daerah dekat FK Unair)”
”Mampir gih mbak ke rumahku”
”Niki inggih Bu griyanipun? (Ini ya Bu rumahnya?)” kulihat rumah minimalis warna orange.
”Iya. Lagi gak ada orang di rumah. Anak-anakku lagi kerja, Bapaknya lagi nyekar di kuningan”
”Putranipun pinten Bu? (Putranya berapa Bu?)”
”Harusnya tiga, laki semua. Putraku yang pertama lahir tahun 82 meninggal usia 5 bulan karena diare. Putraku yang kedua kelahiran 85 dia lulusan Elektro UI, yang ketiga kelahiran tahun 86 kuliah di Komputer LP3I. Sekarang sudah kerja di perusahaan swasta semua. Bapaknya pensiunan PLN”
”Sampun nikah Bu putranipun? (Sudah menikah Bu putrannya?)”
”Belum mbak biar mapan dulu, apalagi putraku yang terakhir itu kerjanya gak pernah netap. Sebentar ke Bandung, sebentar ke Yogya, pokoknya muter-muter terus.”


Aku jadi ingat diriku yang kerjanya juga jarang ngantor. Kantorku memang di Jakarta Utara, tapi aku lebih sering ke Bekasi Utara. Malahan hampir tiap bulan selama dua hari aku jalan, entah ke Cirata atau Paiton. Pokonya keliling Jawa-lah.


”Mboten napa-napa Bu, mumpung taksih enom.(Tidak apa-apa Bu, mumpung masih muda)”
”Iya mbak. Oh ya mbaknya ini kuliah jugakah?”
”Inggih Bu. Kula lulusan saking teknik mesin ITS (Iya Bu. Saya lulusan teknik mesin ITS)”
”ITS Surabaya? S1?”
“Inggih Bu...kula S1 nanging kelahiran kula taun 87 (Iya Bu….saya S1 tapi saya kelahiran 87)”
”Loh masih muda ya?”

Aku tersenyum manis menyembunyikan identitasku sebagai siswa Akselerasi saat SMA. Bahkan aku menyembunyikan kemudahanku masuk ITS tanpa tes.


”Ibu, kula pamit rumiyin nggih...(Ibu, saya pamit dulu ya...)”
”Oh ya mbak, lain kali mampir ya ke rumah. Masa’ sudah hampir setahun di sini aku baru lihat mbak”


Aku tersenyum. Kali ini hatiku berbunga sekaligus mirip. Ini tak ada ubahnya dengan kisahku saat kuliah dulu. Di mana ada keluarga yang sangat menyayangiku dan menginginkanku mendampingi anaknya, namun pada akhirnya aku harus bersedih melihat anaknya memilih menikah dengan pacarnya. Aku terluka dan sangat kecewa sekalipun aku belum cinta padanya. Aku hanya menginginkan kehangatan sambutan keluarganya padaku. Cara mereka memanjakanku seolah aku ini anak mereka. Apalagi mereka tidak memiliki anak perempuan.



Mengapa semua ini berpola namun aku tak mengerti sampai kapan pola ini akan berakhir. Aku sering menjumpai seperti ini. Berada diantara keluarga yang memiliki saudara lelaki semua. Aku tak bisa menebak pola selanjutnya. Aku tak mampu mengerti rahasia yang diselipkan indah oleh Penciptaku. Namun hati lemahku selalu memohon agar dimudahkan setiap langkah kakiku. Aku tak ingin terluka, aku tak mau kecewa. Namun aku juga tak ingin menyakiti siapapun, siapapun.
=====

Kulangkahkan kaki menuju kantor. Biasanya akan kujumpai macet pada jalanan menuju kantor. Jakarta tentunya tidak pernah terbebas dari kemacetan. Apalagi setelah weekend.


Kejadian hari Minggu kemarin tidak lagi menjadi beban dalam pikiranku. Tangisku dan pertemuanku dengan Ibu tua yang bercerita tentang anaknya, semua itu hanya menjadi kisah yang mungkin harus aku lupakan.


Kali ini lelaki itu melihatku. Aku tak bisa lagi tersenyum padanya. Mengapa ia masih juga tak mengerti aku mengharapkannya. Aku berharap ia menyadari kehadiranku. Namun hanya tatapan bukan sapaan yang aku dapatkan.


Aku masih ingat betul pertama aku mendengar namanya. Aku marah karena teman dekatku menawarkan aku padanya. Saat itu aku sama sekali tidak mengenalnya. Akhirnya kami bertemu saat presentasi hasil overhaul di kantorku. Aku ingat ia datang terlambat saat itu, tapi mimik mukanya tanpa ada perasaan bersalah. Aku heran, dan merasa aneh dengannya, bahkan aku tak suka. Namun setelah aku tahu bahwa lelaki yang terlambat datang itu bernama Armada amarahku berubah menjadi rasa penasaran.


Setelah itu aku kerap menjumpainya di kajian-kajian. Aku salut dengan semangatnya dalam belajar agama. Dan aku baru tahu kalau ia ikhwan. Yang aku tahu lelaki ini memiliki dua saudara laki-laki. Nah pola yang sama dengan lelaki-lelaki sebelumnya dimana dalam keluarganya semua saudaranya laki-laki.


Armada, lelaki yang tinggi berkulit putih dan sangat berbeda denganku. Kurasa kehidupannya sangat mewah, berbeda denganku yang sangat sederhana. Aku lahir dari keluarga yang sangat amat sederhana. Menjalani hidup dengan sangat sederhana. Mungkin inilah yang membuatku ingin mengerti tentangnya. Dan sampai saat ini Armada sering menjadi perhatianku. Aku semakin takut dengan perasaan hatiku. Aku takut terjatuh. Aku takut terluka.


”Ya Rabb, jangan jadikan hati ini jatuh pada cinta yang semu.” pikirku.