Dunia hanyalah
permainan dan senda gurau. Tempat untuk bermegah, berbangga diantara kamu. Semula
akan tampak indah seperti tanaman yang tersapu hujan, tapi kemudian mengering hingga
kuning kerontang. Dan semua hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al Hadid: 20)
Dunia. Ilusi. Delusi. Hingga halusinasi.
Manusia mengatakan makanan paling enak adalah escargot. Sejatinya,
ia hanyalah keong yang menjijikkan. Minuman termahal mungkin adalah wine. Mereka
lupa minuman warna merah marun atau putih itu hanyalah anggur yang membusuk.
Manusia mengatakan tidak ada yang mengalahkan manisnya madu.
Meski mereka tahu madu terlahir dari air liur lebah. Kain termahal adalah sutra.
Dan mereka membohongi diri sendiri bahwa sutra adalah kulit ulat yang
mengelupas.
Ada yang membeli parfum dengan harga mahal untuk wangi musk,
dan sang penjual tidak memberi tahu bahwa sejatinya biang wangi adalah sampah
yang keluar dari usus rusa. Begitu juga dengan kopi luwak, kopi yang enak itu
merupakan biji-biji kopi hasil digesti kotoran binatang hewan luwak.
(kutipan dari novel
faith and the city oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra)
Begitu banyak hal didunia ini yang menipu. Masya Allah. Semoga
saya pribadi dan kita semua sadar bahwa apa yang kini ada pada kita, apa yang
saat ini kita nikmati adalah titipan semata. Harta, jabatan, istri, anak dan
semuanya itu hanyalah amanah yang dititipkan Allah pada kita. Allah ingin kita
menjaga amanah itu, tapi ada yang lebih penting yaitu tugas kita untuk
beribadah kepada-Nya. Untuk meraih akhirat yang sempurna.
Dan kejarlah apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu
melupakan (melenakan) bahagianmu dari (kenikmatan) dunia. (QS Al Qashas : 77).
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa prioritas utama
kita adalah negeri akhirat. Dengan perantara rezeki dunia, insya Allah jika
diniatkan ibadah akan menghasilkan keindahan akhirat. Menilik novel faith and
the city mengajarkan kita bahwa kita harus gigih memperjuangkan mimpi-mimpi
kita namun kita tak boleh terlena oleh perolehan kita di dunia. Ingatlah Allah,
Dia-lah penentu rezeki kita. Ingatlah Allah, niscaya kita tidak akan lupa pada
amanah kita, anak-anak kita, istri atau suami kita, orangtua kita dan saudara
kita yang seiman.
Semoga Allah
senantiasa melindungi langkah kita. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar