
Aku masih tidak menyangka, bahwa aku yang terkenal tomboy saat masa sekolah menjadi sosok yang alim saat menepuh kuliah. Semua tak lain karena satu lembaga yang dengan setia menemaniku, Ash Shaff. Awalnya aku hanya berusaha menepati janjiku kepada ibunda tercinta bahwa aku tidak akan pulang kuliah sampai larut malam. Berada di jurusan Teknik Mesin yang mayoritas kaum Adam tentunya akan sulit mengubah kebiasaan praktikum sampai dini hari.
Dari lembaga Ash Shaff ini aku berlindung. Dengan mengatasnamakan akhwat, tentunya aku bisa leluasa untuk bolos praktikum jika malam sudah tiba. Jangankan sekedar mengambil data praktikum, kuliah saja jika sudah melewati jam tujuh malam aku absen.
Sebagai angkatan pertama PMDK Keputrian tahun 2004, mestinya aku tak berbangga hati. Baru tahun inilah jumlah mahasiswi 24 dari 146 total mahasiswa baru teknik Mesin ITS. Merasa bahwa ‘salah tempat’ adalah hal yang lumrah. Belum lagi ketika para kaum Adam yang memandang kami sebelah mata. Namun inilah cikal bakal berdirinya Keputrian Ash Shaff.
Selama ini anggota Ash Shaff hanya terdiri atas ikhwan. Setelah tahun 2004 muncullah para akhwat dengan segala idealismenya. Mereka adalah Rani Kartika Nuri (Blitar), Farida Rahmawati Purnadiana (Jombang), Ade Irma Yunita (Krian) dan aku, Eka Sulistiyowati (Surabaya). Benar-benar tak ada satupun dari nama kami yang bernada islam. Namun kamilah wanita pertama yang membawa nama Keputrian Ash Shaff di kancah JMMI (Jamaah Masjid Manarul Ilmi), kajian jurusan kampus ITS.
Sungguh bukan perjuangan yang mudah. Kami menyusun program tahunan dari ekspansi ke keputrian jurusan lain yang sudah existing. Suatu pengalaman luar biasa yang aku rasakan. Saat itu kami mengangkat Rani Kartika Nuri sebagai Ketua Keputrian Ash Shaff periode 2005-2006. Masih aku ingat berdirinya lembaga Keputrian ini sekitar Mei 2005. Dengan berbekal ilmu seadanya kami berjalan mengembangkan sayap keputrian.
Hal yang menarik pada program kami adalah lomba masak muslimah. Semoga hingga saat aku menulis ini program ini masih ada. Sungguh suatu hal yang menarik, karena diantara kami tidak ada yang pandai memasak. Program-program yang kami rancang tentunya untuk menyambut kedatangan mahasiswi baru angkatan 2005. Jadi yang harus mengikuti lomba masaka adalah mereka. kami berempat menjadi juri dalam perlombaan tersebut.
Banyak juga program lain seperti riyadhoh dan kajian antar jurusan. Biasanya tiap sebulan sekali antara jurusan Teknik Mesin, Teknik Fisika dan Teknik Elektro mengadakan kajian bersama. Merasakan indahnya ukhuwah, dan merasakan betapa beratnya kuliah di kampus yang mayoritas kaum Adam. Tentu saja pembicara kajian didatangkan dari jurusan lain, biasanya kami memanggil pembicara mahasiswi MIPA, bukan mahasiswi teknik. Disamping lebih santun, ilmu mereka juga lebih banyak.
Ketua Keputrian periode tahun 2006-2007 jatuh di tanganku. Sungguh hal yang diluar perkiraanku jika mereka mempercayai amanah sebesar itu. Jika seorang Rani terkenal sangat santun, aku tipenya terkenal sangat keras dan sulit diatur. Namun justru inilah yang mengubahku. Akhirnya aku menjadi pribadi yang luar biasa sopan dengan busana islami. Aku tidak pernah memakai celana panjang, melainkan memakai rok. Dan pembicaraanku dengan kaun Adam menjadi terbatas. Aku tentunya harus menjaga sikap dan memberi contoh yang terbaik untuk adik-adik kelasku.
Karena dari kecil aku tak pernah memiliki hubungan khusus dengan laki-laki tentunya hal yang dinamakan pacaran sangat mudah aku hindari. Mereka pun menatapku santun. Gambaran tentang wanita tomboy yang main bola di kelas saat SMA pun hilang begitu saja. Gambaran tentang wanita yang disekitarnya dikelilingi pria pun lenyap. Aku benar-benar menjadi pribadi yang baru.
Sekarang, saat aku menulis cerita ini ketiga kawan seperjuanganku sudah menikah. Jika saat mengaji dulu aku paling anti dengan ta’aruf kali ini aku mencoba untuk menjalaninya. Mungkin saat ini adalah teguran keras Allah terhadap sikapku. Aku menjalani hubungan tanpa status dengan seorang yang aku percaya, namun kenyataannya itu membuang waktuku selama setahun. Dia pergi begitu saja dan lebih memilih wanita yang mau diajaknya ngedate.
Ini sudah delapan tahun sejak aku benar-benar mengenal islam. Saat aku menggunakan busana muslimah di tiap harinya. Namun tiga tahun belakangan ini memang aku bukanlah sosok kalem dengan segala atribut akhwat. Pekerjaanku yang mengharuskan aku bergaul dengan banyak pria mambuatku jarang memakai rok dan lebih sering berkata dengan suara keras.
Aku benar-benar iri melihat teman-temanku berkeluarga dan menimang bayi mereka. bahkan sekarang aku baru saja mulai meniatkan diri ta’aruf. Aku berharap Allah memudahkan jalanku ini. Sebab, sungguh hati dan pikiranku selama ini sangat kacau. Mungkin harus ada yang aku tangani selain pekerjaan yang membosankan. Keadaanku yang jauh dari orangtua memeperparah emosiku. Kini, aku hanya mampu berserah atas keputusan Allah.
Rani, Farida dan Ade, semoga aku segera menyusul kalian untuk mengikatkan diri pada pernikahan yang islami. Semoga Allah menganugerahkan lelaki sholeh sebagai imam bagiku dunia dan akhirat. Amin.
Sudah lama aku tidak lagi mengetahui kabar dari Keputrian Ash Shaff. Sudah lama aku tidak berkunjung ke tempat kuliah dulu. Rasanya rindu bercampur malu yang aku alami. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untukku, hingga aku tak lagi terbenam dalam kesedihan tak terbatas. Allah tentu tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.
Semoga Allah meridhoiku untuk menjadi seorang isteri dan seorang ibu. Aku sangat merindukan kehangatan sebuah keluarga di tengah kesendirianku kini.
Ya Allah…hanya pada-Mu segalanya ini dikembalikan. Kabulkanlah doaku….
Amin Yaa Rabb …
assalamualaikum..
BalasHapussalam kenal..
waktu googling nama temen saya sekelas waktu SMA.. Rani Kartika Nuri.. salah satunya muncul blog ini..
kira2 masih kontak dengan Rani tidak ya Ukhti?
saya sih lost contact, sejak lulus SMA, bertemu pas kuliah sekali tok.
wassalam