
Pagi ini hujan mengguyur cukup deras. Aku segera menjemur jas hujanku ketika tiba di kantor. Bunyi perutku terdengar cukup keras, belum sempat aku sarapan. Tadi pagi aku bangun kesiangan. Dan ternyata seragam hari kamisku belum aku setrika, maklum kemarin aku kebagian piket hingga pulang larut malam.
“Assalamu’alaykum” sapa Deni, teman satu ruangan denganku. Rupanya dia datang lebih awal dari aku.
“Wa’alaykumsalam ya ahli kubur….” Jawabku seraya bersalaman dengannya.
Kulihat Deni asyik menikmati sarapan paginya.
“Wah enak ya yang sudah punya istri….” Sindirku.
Deni tersenyum padaku, “Lha kamu sendiri kapan rencana nikah? Sudahlah Rama, tidak usah pilih-pilih”
Aku tersenyum kecut menanggapi sindiran Deni. Deni baru menikah sekitar tiga bulan. Isterinya adalah karyawati kantor sebelah. Antara kantor kami dan kantor sebelah masih di bawah satu bendera perusahaan. Hanya saja kantor sebelah bekerja di bidang maintenance.
“Esa sempat ya masak? Biasanya kalau perempuan kerja itu tidak sempat masak” tanyaku memastikan bahwa masakan yang disantap Deni adalah masakan isterinya.
“Esa itu wanita yang luar biasa Ram, dia selalu menyempatkan diri untuk memasak buat suaminya.”
“Wah, beruntung sekali kamu”
“Ya mungkin sudah rezekiku, walaupun sebenarnya baik Esa maupun aku tidak pernah berpikir kami menikah”
“Kok bisa?”
“Esa menunggu seseorang menyadari kehadirannya tapi rupanya orang tersebut tidak pernah menyadari.”
“Dia naksir cowok lain, begitu maksudmu Den?”
“Yup… seandainya saja lelaki itu menyadari mungkin aku kalah saing…hehehe”
“Wow, sosok Deni yang begitu intelek dan optimistis bisa juga pesimis. Berarti lelaki itu hebat banget dong”
“Yup….” Jawab Deni seraya mengemasi peralatan sarapannya.
Aku mengenal Esa lebih dari setahun yang lalu. Mungkin aku lebih mengenalnya daripada Deni. Aku sendiri pun tidak pernah berpikir Esa akan menikah dengan Deni. Deni adalah pribadi yang kaku, dan dia bukan tipe laki-laki yang mudah bergaul dengan wanita. Berkebalikan dengan Esa yang berbasic teknik, dia terbiasa bergaul dengan laki-laki. Aku sendiri pun sering berhubungan dengan Esa.
Esa bukanlah wanita yang cantik. Tapi dia termasuk wanita cerdas. Lulusan perguruan tinggi negeri ternama dan masuk kuliah tanpa tes. Belum lagi dia menyelesaikan pendidikan SMA dalam kurun waktu dua tahun. Itu semua aku tahu dari profil yang dia tulis di facebook, yang baru aku baca seminggu lalu. Semua pendidikan mulai SMP sampai bangku kuliah dia menerima beasiswa.
“Seandainya ada wanita yang cerdas tapi gak cantik, suka sama kamu, dan dia dekat sama kamu lalu wanita itu tahu semua kebiasaanmu, dia bisa memahami kamu. Kira-kira kamu bakal berpikir untuk menikahi dia nggak?” Tanya Deni tiba-tiba.
“Masih belum terpikir”
“Berarti kamu hanya melihat outer beauty saja dong?”
“Kan isteri itu harus enak dipandang, jadi suami tidak sampai melirik-lirik wanita lain”
“Bukannnya seorang lelaki bisa menikahi empat wanita”
“Hmmm… isteri juga mestinya berada di rumah, memasak, menjaga rumah dan mendidik anak-anak”
“Yup, ideal sekali kriteriamu. Cantik, cerdas, dan ibu rumah tangga.”
“Itu simple”
“Padahal kebanyakan wanita cantik kan suka menghamburkan uang.”
Aku menatap Deni dengan curiga, “Memangnya Deni mau membawa pembicaraan ini ke arah mana?”
Deni menatapku tajam, “Tadi malam aku sempat tanya ke isteriku mengapa dia enggak pernah mau mengunjungi ruangan kerjaku”
“Memangnya kenapa Den?”
“Karena dulu dia sempat suka sama kamu.”
Aku tertawa kecil. Pembicaraanku dengan Deni membuatku semakin gerah. Ini terlalu serius untuk dibicarakan di pagi buta.
“Sudahlah Sob, itu kan masalalunya Esa. Masa’ sekarang kamu cemburu sama aku?”
“Aku bukannya cemburu tapi aku malah sempat berpikir ketika kamu baru memasuki ruangan ini pagi tadi. Seandainya saja yang baru memasuki ruangan itu aku dan aku melihatmu sedang menyantap makanan buatan isterimu betapa irinya diriku.”
Aku menatap Deni dengan pandangan serius. Ya, itu juga perasaan yang aku rasakan awal tadi. Rasa iri pada Deni. Dan seandainya boleh jujur aku malah merasa iri ketika Deni memberitahuku tentang perasaan Esa kepadaku.
Selama ini aku hanya menganggap Esa sebagai adikku sendiri. Walaupun sebenarnya dulu aku sempat merasa kesal pada Esa. Rasa kesal yang tidak beralasan. Mungkin karena dia kerap ada di mana aku berada.
Kini aku merasa terhempas oleh impianku sendiri. Aku kerap bermimpi tanpa melihat kondisi sekitarku.
“Assalamu’alaykum” seorang wanita berhijab memasuki ruangan kantorku.
“Wa’alykumsalam” jawabku dan Deni bersamaan.
“Wah, ada apa nih Umi?” Tanya Deni.
“Kangen sama Abi…”jawab Esa manja
“Masa’ sudah kangen sih Mi” sahut Deni
Aku menatap Esa, ada yang berubah dari sikapnya. Sekarang dia terlihat begitu ceria.
“Mas Rama sudah baikan? Esa denger minggu kemaren Mas Rama sakit sampai harus dirawat di rumah sakit” Esa menatapku penuh tanya.
“Yup…terkena DB. Sekaligus kecapekan…” jawabku.
“Makanya cepat cari isteri Mas…biar ada yang ngurusin”
“Iya Sa, mohon doanya ya…”
“Insya Allah”
“Ya biar ada yang masakin….”
“Hehe…iya Mas, cari yang bisa masak. Jangan yang seperti Esa”
“Lho bukannya Esa tadi pagi masakan Deni”
“Hehe…masak sebisanya Mas”
“Lain kali Mas Deni-mu aja yang suruh masak. Dia suka mbuat penyetan”
“Oh iya?” paras Esa bebinar seraya melayangkan pandangan kea rah Deni.
Ada rasa cemburu merayap dalam hatiku. Seandainya Deni adalah aku. Betapa bahagianya aku diperhatikan. Ah mungkin belum waktunya untuk menjalin cinta atas nama Allah….
Semua kisah dalam kehidupan ini telah diatur oleh-Nya. Telah tertulis kehidupan, kematian, rezeki dan jodoh dalam Lauhul Makhfudz-Nya. Semoga segala yang tertulis itu adalah yang terindah.
======
Jakarta, September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar