Aku masih menyimpan rasa cemburu pada wanita cantik itu. Sekalipun
tak ada alasan yang masuk akal untuk cemburu kepadanya. Wanita itu memang
sangat cantik, tutur bahasanya halus bak bidadari. Tapi dirinya tak bisa
dibandingkan denganku.
Aku memiliki seorang putri yang cantik. Punya keluarga yang
bahagia. Punya suami yang super sabar dan baik hati. Lalu, buat apa aku cemburu
kepadanya. Benar-benar membuang energy,bukan?
Tapi saat wanita cantik itu menatap perut buncit calon anak
keduaku. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Seandainya saja wanita itu dulu
menerima suamiku sebagai calon suaminya. Karena wanita itu lebih dulu mengenal
laki-laki yang kini menjadi suamiku. Seandainya dia menerima laki-laki itu,
mungkin akulah yang saat ini menatapnya iri.
Tapi ah, itu hanya khayalanku saja. Wanita cantik itu adalah
temanku dan suamiku pun pernah mengatakan tidak tertarik padanya. Karena wanita
cantik itu belum tentu mau menerimanya. Laki-laki yang kini menjadi suamiku itu
berpikir bahwa lebih baik bersanding dengan wanita yang mau menerimanya apa
adanya.
Dan akupun begitu, lebih baik menerima lelaki yang sudah
pasti mau mendampingiku daripada terus bermimpi tentang lelaki-lelaki super
tampan yang lain.
Cinta adalah soal waktu
Bukan soal ketampanan atau kecantikan
Tapi soal kesetiaan dan komitmen hidup bersama
Cinta adalah tentang kebiasaan
Biasa bersama yang akhirnya memunculkan rasa kagum
Kagum berubah menjadi rasa sayang
Cinta adalah hadiah dari Tuhan
Patutlah kita syukuri dan kita jaga kehadirannya
Selama-lamanya hingga di akhirat nanti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar