Senin, 08 Juni 2015

Merindukan Cahaya Islam




Ya Allah semoga cahaya Islam kembali menyinari bumi Eropa (99 Cahaya di langit Eropa, hal  203, novel by Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra)

Sebaris kata-kata dari Hanum Salsabiela Rais menyentakku. Membuatku gentar akan keajaiban islam yang telah terjadi beberapa abad di bumi Eropa. Subhanallah. Akupun merindukan cahaya islam itu.

Aku merindukan cahaya islam menyinari belahan bumi dunia. Menyinari seluruh kehidupan manusia. Khilafah islam yang berdiri tegak menjadi rahmat bagi penduduk dunia. Aku sangat merindukan itu. Dimana pengetahuan berkembang pesat, dan penemunya adalah kaum muslimin. Subhanallah, sungguh akan terasa indahnya hidup di dunia.

Aku merindukan aturan islam dan budaya islam menghampiri negeriku yang kini mulai berkiblat ke peradaban Barat. Negeriku yang kini berada di batas kekeringan akhlak karimah. Negeri yang mayoritas islam ternyata masih sibuk mengurusi riba yang berkedok bunga bank. Negeri yang mayoritas islam namun belum ada satupun hukum islam yang berlaku. Kejahatan yang selalu diwaspadai, pemimpin yang sebagian besar tidak mampu mengemban amanah, rakyat yang sebagian besar tidak memahami arti dosa. Masya Allah, sudah seburuk itukah negeriku.

Ya Allah berilah cahaya islam di negeriku. Negeri tempatku dilahirkan, negeri tempatku selama ini tinggal. Jadikanlah cahaya islam sebagai suatu pertanda kemenangan hati. Jangan Engkau lenakan kami dengan kehidupan dunia yang tidak ada habisnya. Jangan Engkau lenakan kami dengan kecanggihan teknologi tanpa sedikitpun mau meluangkan waktu untuk menuntut ilmu.

Islam itu harus cerdas, islam itu harus baik. Bukankah di dalam Al Quran dan Hadist telah disebutkan banyak pengetahuan. Tentang alam, tentang pemerintahan, tentang ilmu agama. Sungguh, semoga aku dan keluargaku selalu dimudahkan dalam menuntut ilmu.

Aku mengagumi kebesaran islam beberapa abad yang lalu. Aku pun akan selalu berdoa semoga islam juga mampu berjaya kembali. Melahirkan ilmuwan-ilmuwan islam, menjadikan cahaya di bumi Allah. Cahaya rahmatan lil alaamiin.

“Katakanlah: Adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu”. "Katakanlah: Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu". (Az-Zumar:9)

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Mujadilah : 11)

Laa ilaahaa illallah…




Adakah yang bisa mengatakan padaku…ini bukan gereja…ini masjid (99 Cahaya di Langit Eropa hal 262, novel by Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra)



Mezquita, nama bangunan yang berdiri di Cordoba. Setelah melihat film dan membaca novelnya, masih juga aku menitikkan airmata. Cahaya islam yang pernah menyinari Cordoba kini telah pudar. Masjid itu kini menjadi sebuah gereja. Meski pada mihrab masih ada tulisan dari ukiran paling utuh. Tulisan “Allah” dan “Muhammad”. Sementara kaligrafi yang lain sudah tidak utuh lagi karena terpaksa dihapuskan.

Subhanallah, semoga aku bisa mengunjungi Mezquita, tempat dimana dulu sumber pengetahuan berasal, Cordoba. Mengagumi para pendahulu kami yang mampu membuat bangunan semegah itu untuk beribadah kepada Allah. Mengagumi ilmu pengetahuan dan arsitektur yang menjadikannya rumah ibadah yang begitu indah.

Subhanallah, Mahasuci Allah dengan segala kebesaran-Nya. Islam, kami merindukanmu kembali menjadi cahaya bagi seluruh alam. Menerangi tiap jiwa dengan cahaya iman kepada Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar