Selasa, 23 Mei 2017

Saudaraku, kita sedang hidup di zaman Kera, Maka berhati-hatilah




 Dan berlindunglah kepada Allah dari segala fitnah.
Wanita-wanita yang setengah telanjang, menebar pesona dan bergaya, yang kepala mereka seperti onggokan jambul unta. Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk surge dan tidak akan menemukan bau surge. Sesungguhnya bau surge itu hanya akan ditemukannya dengan jarak sedemikian hingga sedemikian” (HR Muslim)

Apa itu zaman kera?
Yaitu zaman ketika polusi dan pencemaran terjadi dimana-mana. Tidak hanya polusi udara dan pencemaran lingkungan, tapi yang jauh lebih berbahaya, justru terjadi polusi dan pencemaran akhlak, moral, tatanan masyarakat makin tidak karuan.

Ya, zaman ketika semua serba terkena polusi dan pencemaran. Tanpa kecuali, pikiran dan paradigm piker anak manusia pun sudah terkena polusi dan pencemaran.

Yaitu zaman ketika suara-suara music romantic yang membangkit-bangkitkan dan menggedor-gedor impian nafsu birahi dan syahwat mengalun dimana-mana dengan bebasnya. Berbagai macam jenis alat music, tradisional maupun modern, baik yang terbuat dari kayu, logam maupun sepuhan lainnya, saling berlomba, saling bergenderang, menyuarakan bunyi-bunyian lagu gila yang merangsang.

Seruling, gitar, dan organ listrik, piano elektronik dan lain sebagainya, menyanyikan lagu-lagu cinta picisan penggugah syahwat para kaum lelaki. Jangankan yang tidak beriman, lelaki yang beriman pun pada akhirnya tidak sedikit yang tergoda dan akhirnya hanyut dalam lagu-lagu cinta picisan nan murahan itu. Banyak yang terang-terangan, tapi tidak sedikit pula yang masih sembunyi-sembunyi karena malu. Bagi yang tidak hanyut dalam genderang perang lagu-lagu cinta picisan itu akan diolok-olok sebagai orang munafik yang kolot dan ketinggalan zaman. Astaghfirullah.

Yaitu zaman ketika para wanitanya tak lagi mengindahkan kesuciannya. Dengan kedok “wanita seksi” dan “wanita modern” mereka jual diri mereka berikut lekukan-lekukan tubuh yang mereka miliki dengan harga murah dan obralan.

Mereka menjualnya di jalan-jalan, di kantor-kantor, di trotoar-trotoar, di hotel-hotel, di stasiun-stasiun, entah stasiun kereta api atau di stasiun televise dan dimanapun mereka suka. Tidak perlu malu lagi ataupun sembunyi-sembunyi.

Dengan kedok “seksi” dan “modern” mereka hiasi diri mereka dengan pensil alis, cat bibir, cat kuku, cat pipi, korset, garis kehijau-hijauan di atas bulu mata dan garis kebiru-biruan dibawah mata, wangi-wangian penghilang bau badan, tumit sepatu tinggi, baju yang tidak sempurna tertutup dan entah apa lagi. Agar apa? Agar para lelaki leluasa menelanjangi mereka dan mengagumi mereka.

Inilah zaman kera, zaman dimana para wanita mengobral dirinya yang bersembunyi di balik kata “seksi” dan “modern” mereka berpakaian namun masih menimbulkan syahwat bagi kaum laki-laki.

Inilah zaman kera, yaitu zaman ketika terbukanya kemungkinan dengan selebar-lebarnya untuk membangkit-bangkitkan nafsu syahwat melalui nyanyian-nyanyian cabul yang dimasukkan kedalam gendang telinga semua orang mulai pagi, siang, sore dan malam.

Yaitu zaman ketika banyak dipertontonkan dengan terang-terangan cara bercumbu-cumbuan antara lelaki dan perempuan yang menggambarkan baying-bayang sensual, baik melalui poster, tayangan televise maupun film bioskop.

Bahkan di dunia maya, adegan-adegan perzinahan telah dianggap biasa dan dijadikan barang dagangan industry perfilman yang menghasilkan materi tinggi. Anak-anak kecil, kaum remaja, putra dan putri dibesarkan dan dibiarkan menelan didikan-didikan semacam itu dengan terang-terangan dan terus-terusan.

Inilah zaman kera yang serba edan. Inilah kenyataan yang tak terbantahkan bagi siapa saja yang mau jujur mengeluarkan pengakuannya.

Dan lihatlah pada akhirnya, hasil semua itu sungguh mencengangkan! Mereka kehilangan rasa malunya. Mereka lebih jalang daripada binatang. Anak-anak yang bau kencur sudah tahu cara berhubungan badan bahkan naudzhubillah, ada yang sampai memperkosa temannya sendiri, anak memperkosa dan membunuh ibunya, astaghfirullah….

Yaitu zaman ketika cara-cara menodong, cara-cara menyamun, cara-cara menggarong, cara-cara merampok, dan cara-cara membunuh orang pun tak ketinggalan dipertontonkan setiap hari dan setiap malam melalui berbagai cerita dan film, sinetron, berita, dan lain sebagainya.

Ternyata hasilnya pun memdai dan sukses luar biasa. Di mana-mana, terutama di kota-kota besar, banyak terjadi muda-mudi berandalan yang meniru-niru adegan yang mereka tonton itu guna memenuhi kebutuhan-kebituhan nafsu fisik-material mereka.

Itulah zaman kera. Zaman dimana nafsu syahwat menguasai diri danak manusia. Zaman dimana angkara murka merajai dunia. Zaman dimana rasa cinta kasih diantara manusia telah sirna. Zaman dimana kemanusiaan telah tumpul setumpul-tumpulnya.

Itulah zaman kera. Zaman dimana perzinaan dianggap hal biasa, apalagi pacaran. Zaman dimana ketika kita memegang teguh ajaran islam yang mulia, kita dianggap aneh, asing dan kolot. Zaman dimana ketika kita memegang ajaran suci Nabi Muhammad, kita seolah memgang bara api di tangan kita.

Zaman edan, yen ora edan ora kaduman. Naudzubillahi min dzalik

Zaman itu telah menghadang di hadapan kita, siap menerjang generasi-generasi kita. Oleh karena itu berlindunglah pada Allah agar kita dan seluruh keturunan kita dihindarkan dari fitnah zaman kera ini.

Ya Rabb, jauhkanlah kami dari fitnah zaman yang rusak ini, selamatkan kami dari segala marabahaya. Selamatkan kami, anak cucu kami, keturunan kami, orang-orang yang kami cintai dari segala macam keburukan duni. Tanamkanlah di hati kami ini cahaya iman dan islam serta mudahkanlah kami untuk menjalankan perintah-Mu serta menjauhi larangan-Mu. Ya Rabb, hanya pada-Mu lah kami dan keturunan kami berlindung. Selamatkan dan kabulkanlah doa kami. aamiin

Selasa, 02 Mei 2017

Kepada-Mu kumemohon




Hanya Allah tempat Memohon Pertolongan

Sekeras apapun usaha kita jika Allah tidak menghendaki atau jika Allah tidak menolong kita, semuanya akan sia-sia belaka.

Apakah masih kurang usaha nabi Nuh ketika menyeru kepada anaknya yang bernama Kan’an agar berada di jalan Allah? Namun Allah tidak menghendaki dan tidak memberikan pertolongan-Nya kepada Kan’an, maka Kan’an pun tidak terbuka hatinya. Ia mati dalam keadaan kafir lagi sesat.

Apa yang salah dengan Nabi Ibrahim, apakah beliau kurang keras dalam mendoakan bapaknya Azar agar berasa di jalan Allah? Namun Allah tidak menghendaki dan tidak memberikan pertolongan-Nya kepada Azar, maka Azar pun tidak terbuka hatinya. Ia mati dalam keadaan kafir lagi sesat.

Apakah Nabi Muhammad juga masih kurang keras usahanya ketika meminta pamannya Abu Thalib agar memeluk islam? Tidak. Namun ketika pertolongan Allah tidak datang, Abu Thalib pun juga mati dalam keadaan kafir. Sungguh, semuanya tergantung pada kehendak serta pertolongan Allah SWT.

Sungguh, perlindungan dan pertolongan Allah adalah senjata dan terapi paling ampuh ketika menghadapi segala persoalan dan permasalahan hidup

“Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk “ (Al Qashshash 28 : 56)


Yaa Rabb, lindungilah kedua anakku, aku dan suamiku  dari segala bahaya, zina  dan fitnah. Jadikanlah kami pribadi yang selalu mensyukuri nikmat-Mu. Jauhkanlah kami dari segala sifat perbuatan syirik dan riya’. Berilah kami ketaatan yang teguh atas perintah-Mu dan kemudahan untuk menjauhi larangan-Mu. Dan hanya pada-Mu lah kami memohon pertolongan. Kabulkanlah doa kami yaa Rabb….aamiin


Jumat, 24 Maret 2017

Tentang Rizki




Aku tak tahu apa yang tengah terjadi dalam otakku, seraya menyeretku dalam kenangan lima tahun lalu. Lelaki itu berdiri di hadapanku. Memandangku dengan tatapan mata yang penuh kasih sayang.

Lima tahun yang lalu.
Apa yang membuatmu berada di sini Rizki?  tanyaku dalam hati. Tentu saja aku tak sanggup bicara padanya. Aku tahu  hatinya terluka oleh apa yang tengah terjadi.
“Kamu cantik” ucap Rizki tanpa menghiraukan tatapan permintaan maafku. Maaf karena aku tak pernah bisa memilihnya sebagai pendamping hidupku. Meski aku tahu dari awal perjumpaan kami, dirinya selalu memperhatikanku, menyayangiku, memanjakanku, dan selalu ada untukku.
“Lelaki itu beruntung bisa mendampingimu” ucap Rizki. Hatiku serasa tercabik-cabik memikirkan betapa banyak pengorbanan dirinya untukku. Kenangan saat kuliah bersamanya. Dirinya, bagiku adalah malaikat penolong. Yang selalu menghapus airmataku saat aku bersedih. yang selalu disampingku saat aku membutuhkan seseorang untuk kuajak bicara.
Aku mengangguk pelan, entah mengiyakan kata-katanya. Atau hanya sekedar menghilangkan kekakuan sikapku. Aku tak tahu harus menangis atau tersenyum kepadanya. Aku tak bisa meminta maaf padanya. Tapi aku yakin dia kesini karena dia telah memaafkanku.
Ah, Rizki….kamu benar-benar tidak berubah. Tiga tahun aku merantau pergi jauh darimu dan sikapmu padaku belum juga berubah. Juga tatapan itu, tatapan yang selalu menenangkanku.
“Tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja” ucap  Rizki tersenyum padaku.
Ya, harusnya akan baik-baik saja. Jika saja dirimu tak dating disini, Rizki. Dari banyak teman yang tergabung dalam milist angkatan mengapa hanya dirimu yang dating dalam acara pernikahanku, bahkan di saat yang paling mendebarkan, saat akan melakukan akad nikah. Ah, Rizki.

Saat ini
Profil facebookmu menampilkan gambar anak pertamamu, seorang bayi laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Hatiku terasa teriris melihatnya. Padahal harusnya aku bahagia, sama sepertimu yang bahagia atas kelahiran buah hatimu. Sungguh, aku ingin ikhlas mengucapkan selamat kepadamu. Namun aku hanya menulis dalam kolom komentar ‘Selamat ya Rizki…’
Ah, bayi laki-laki itu….seandainya saja aku dulu memilih Rizki sebagai pendampingku. Akankah bayi laki-laki itulah yang ada dalam gendonganku saat ini. Ah Rizki…rupanya aku belum bisa melupakanmu. Mungkin dirimu telah mengikhlaskanku lima tahun lalu, tapi aku belum mengikhlaskanmu meskipun dirimu telah menikah dan memiliki seorang bayi laki-laki yang lucu.
Ah Rizki Ahmad Hanif…aku benar-benar belum bisa melupakanmu ….

Selasa, 22 November 2016

Aih, Ada Lelaki di Masalalu



Kali ini aku berjumpa lagi dengannya. Ditempat yang sama, namun di acara yang berbeda. Ada segurat rasa bahagia saat bertemu dengannya lagi. Ya, siapa lagi jika bukan lelaki yang selalu membuat detak jantungku berdegup kencang. Lelaki dengan senyum manisnya yang mengembang. Seakan semua membeku dalam ingatanku. Aku tahu ini salah, tapi siapa yang bisa mengubah perasaan semacam ini?


Aku berjalan di belakangnya. Ya, aku suka sekali melihat punggungnya. Dirinya memakai jaket yang dulu jadi kebanggaan kami. Jaket yang tujuh tahun lalu setia menemaniku dan menemaninya.
“Kok jaket ini masih ada?” tanyaku seraya memegang jaet warna birunya.
“Iya, masih. Tapi sekarang sudah tidak bisa dikancingkan” jawabnya.
“Kegendutan sih” tegurku.
Dan lelaki itu tersenyum dengan caranya yang khas. Senyum yang selalu membuatku mengingat masa-masa itu. Masa dimana kami memasak bersama. Aku menggoreng temped an dirinya membuat sambal bawang. Aih, sepertinya baru kemarin saja.


Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Dan aku pernah mengatakan hal itu pada beberapa orang. Mungkin dirinya juga tahu hal itu aih, masalalu …


Dikeluarkannya rokok elektrik dari sakunya. Serta merta dia merokok, tanpa menghiraukanku. Meskipun aku tidak suka lelaki yang merokok. Entah mengapa aku tak bisa benci padanya. Yang ada hanya, aku benar-benar c**** padanya. Ah…masalalu.


Lelaki masalalu yang masih selalu menggoda hatiku. Aih….

Kamis, 03 November 2016

Andai dirimu tahu, sang Pangeran



Andai saja dirimu tahu betapa sangat sangat bahagianya saat aku berada di sampingmu. Hal yang tidak berubah dari puluhan tahun yang lalu. Menyebalkan, tapi itulah yang aku rasakan. Bertemu dengan lelaki yang ganteng, pintar dan lucu. Hanya satu kutemukan, itulah yang ada di dirimu. Walau hanya sejenak pertemuan kita, namun aku tak bisa menggambarkan bunga-bunga yang ada di hatiku.

Dulu, saat dirimu menjemputku untuk pergi. Tidakkah kau lihat parasku yang sangat ceria. Ya, aku memang suka sekali pada dirimu. Mengagumi dan menyukaimu. Atau saat kita jalan berdua saja. Ah, berasa dunia ini cuma ada kita berdua. Atau saat dirimu melepaskan helm dari kepalaku. Aih, romantic sekali.

Aku tidak peduli meskipun dirimu selalu memanggilku “Ndul…” (kepanjangan dari gundul). Pernah aku bertanya mengapa dirimu memanggilku gundul. Katamu “bagaimana aku tahu kamu gundul atau tidak, toh kamu ga pernah lepas jilbab”. Mungkin kalau lelaki lain, aku sudah jutek setengah mati dibilang gundul. Tapi nyatanya aku malah memberikan senyum terindahku untukmu. Ya, hanya untukmu.

Andai saja dirimu tahu. Apapun yang kamu lakukan itu menurutku lucu. Dan aku tak bisa berhenti tertawa jika ada dirimu. Tentu saja dirimu bukan pelawak, namun entahlah, semua yang ada di dirimu terasa begitu sempurna. Saat kamu menceritakan bahwa celana wearpackmu robek, padahal kamu tidak membawa baju ganti selain celana wearpack itu. Aih, menurutku kamu lugu sekali, berani menceritakan hal yang memalukan seperti itu. Dan itu sangat lucu bagiku.

Aku harus menyebutmu seperti apa Pangeran nan Tampan. Pesonamu itu senantiasa membiusku. Semua orang menyebutmu playboy, dan tak jarang aku selalu cemburu jika ada wanita yang dekat denganmu. Tapi, semua itu tak pernah melunturkan rasa sukaku padamu.

Hai pangeran tampan. Aku cukup bahagia saat dalam mimpi kau menyebutku sebagai calon istrimu.  Walaupun kenyataannya aku bukan calon istrimu, calon saja bukan apalagi istri yang sesungguhnya. Tapi cukup melihatmu saja aku sudah bahagia. Saat kau mau menyapaku aku juga sangat bahagia. Saat ku menatapku jantungku berdebar tak menentu. Sungguh, semuanya di luar logika.

Meskipun jalan yang kita tempuh kini telah berbeda. Semoga dirimu tetap selalu bahagia. Dan akupun juga bahagia.