Rabu, 21 Mei 2014

Sepucuk Hati untuk Arjuna





Aku pernah mengagumi lelaki ini. Aku pernah cemburu saat mengetahui lelaki ini menyukai sahabatku. Aku pernah mendekati dirinya. Aku pernah mencoba untuk selalu hadir dalam kehidupannya. Namun lelaki ini hanya menganggapku sebagai seorang sahabat, tak lebih dari itu.


Apa yang kurang dari sosok yang bernama Arjuna ini. Ketampanan dan kecerdasan telah identik melekat dalam dirinya. Serasa tak ada seorang wanita pun yang akan menolak untuk menjadi kekasihnya. Bahkan wanita sepertiku juga selalu memimpikannya.


Kini sosok Arjuna kembali mendekati seorang wanita. Yang menurutku, tak pantas berdampingan dengannya. Arjuna yang cerdas sangat berbeda dengan wanita ini. Setiap kali yang dibicarakan oleh wanita ini hanyalah bagaimana memelihara kecantikan dan fashion. Wanita ini memang berkulit putih. Tapi menurutku wanita ini kurang cerdas untuk mendampingi Arjuna.


“Mas…” sapaku ketika melihat sosok Arjuna di depanku.
“Hai, lama tak jumpa” sapamu
“Kudengar Mas Arjuna sudah tunangan. Siapa wanita yang beruntung meraih hatinya Mas?”
“Kok tahu?”
“Denger-denger aja sih. Sama siapa Mas?”
“Aku belum tunangan kok. Masih deket ama seorang cewek, tapi belum serius. Kamu kan tahu aku dulu pernah membatalkan pertunangan. Makanya sekarang lebih hati-hati”
“Ooohhh gitu”
“Kamu sendiri gimana?”
“Maksudnya?”
“Kamu bahagia sama pria itu?”
Aku masih bingung dengan pertanyaannya.
“Anggun sayang sama pria itu?”
“Sayang”
“Anggun cinta sama pria itu?”
“Ya”
“Berarti sama dengan perasaanku sama Anggun”
“Maksudnya Mas Arjuna apa?”
Lelaki tampan di depanku ini hanya tersenyum seraya pergi meninggalkanku.


Aku telah merelakan hatiku untuk mencintai lelaki lain, bukan seorang Arjuna. Aku memang pernah ada sepucuk hati untuk Arjuna. Namun saat itu Arjuna tak pernah melihat kehadiranku dalam kehidupan cintanya. Lalu mengapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.


Handphone-ku tiba-tiba bordering, sebuah sms masuk.
Anggun Dewi Arisa, sbnrny dr awal btemu aq mengagumimu. Aq pernah ingin menjdkanmu pendmping hidupku. Nmn wktu tlh mempertemuknmu dgn jodohmu. Smg aq jg menemukan jodoh wanita yg baik dan cerdas spt dirmu (Arjuna Dewa Putra)


Hatiku mencelos membaca sms dari seorang lelaki yang dulu amat kukagumi. Kubalas short message dari Arjuna.
Aamiin, smg dimudahkn oleh Allah

Selasa, 01 April 2014

Cinta itu Masih Tetap Kamu





Sudah hampir lima tahun lamanya aku tak lagi bertemu denganmu. Sosok wanita yang selalu aku banggakan di depan kedua orangtuaku. Sosok wanita yang selalu menjadi bidadari idamanku. Kini, rasa rindu ini manyelimuti hatiku. Rindu yang terbendung oleh kondisi dimana aku tak lagi bisa menemuimu.

Arraya Nisa Wahdah, wanita yang akrab kupanggil Raya. Wanita yang selalu hadir di setiap mimpiku. Bagaimana aku bisa melupakanmu, sedangkan sampai detik ini aku masih sendiri. Aku masih belum berpikir untuk mencari penggantimu. Andai saja kau tahu, Cinta itu Masih Tetap Kamu.
=====
Lima tahun yang lalu
“Mas, maaf. Apa Mas yang bernama Habib?” tanyamu memecah keheninganku.
Entah sejak kapan wanita berhijab ini ada di hadapanku. Yang jelas dari awal kehadirannya aku sudah terpesona. Wajahnya menyiratkan bahwa dia wanita yang luar biasa. Kecerdasan Dan kesantunannya belum pernah aku jumpai pada wanita manapun.
“Iya, kamu Raya ya?” tanyaku.
“Betul. Maaf Mas, selama Mas Habib cuti, aku disuruh kepala cabang Bimbel ini untuk menggantikan sementara posisi Mas Habib, gak papa kan?”
“Tentu saja ndak papa, lagipula aku masih punya banyak adek les privat. Kalau ikut lembaga bimbingan belajar seperti ini, aku sering bingung ngatur waktunya”
“Alhamdulillah kalau ndak papa. Ini aku Cuma ngisi waktu aja. Kebetulan kalau pagi aku sibuk nglamar pekerjaan disana sini, Dan sorenya nganggur, makanya aku ngasih bimbingan les disini?”
“Ambil pelajaran apa?”
“Apa aja, matematik, fisika, kimia, sama bahasa inggris untuk SMP Dan SMA”
“Wow, Memangnya Mbak kuliahnya jurusan apa?”
“Jurusan Mesin”
Aku terdiam sejenak, kulihat dia juga tidak tertawa. Berarti wanita ini serius.
Awal pertemuan itulah yang membawa kami akrab satu sama lain, sampai akhirnya aku mendapat pekerjaan di Jakarta. Aku juga saat itu baru lulus kuliah Dan aku juga jobseeker sama seperti Raya. Namun selama enam bulan di Jakarta, membuatku tidak betah. Aku resign Dan kembali menjadi tentor les di Surabaya. Sayangnya, Raya sudah tidak berada di Surabaya. Dia sudah diterima kerja di suatu perusahaan. Karena masih training, dia belum ditempatkan di satu kota. Dia masih berpindah-pindah kota. Setelah itu komunikasi kami terputus oleh kesibukan kami masing-masing.
=====
“Apa kabar Mbak Raya?” tanyaku saat menelponmu. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengar suaramu.
“Maaf ini siapa ya?” tanyamu
“Ini Habib, temen ngajar waktu di Surabaya”
“Oh Mas Habib gimana kabarnya, Raya sekeluarga Alhamdulillah sehat.”
“Alhamdulillah sehat. Mbak Raya gimana, udah punya calon suami?”
“Wah anakku udah mau setahun Mas. Aku menikah dua tahun yang lalu. Mas Habib sudah menikah?”
Lama aku terdiam sampai akhirnya Raya menegurku.
“Halo, Mas Habib masih tersambung kan telponnya?”
“Masih, Oh ya Mbak Raya udah menikah ya? Wah beruntung sekali lelaki yang menikahi Mbak Raya”
“Mas Habib bisa aja, justru Raya yang beruntung dapet lelaki sesabar suami Raya. Belum ada lelaki sesabar itu dalam hidup Raya”
“Wow, maaf ya ndak hadir di nikahan Mbak Raya, habisnya, Mbak Raya ndak ngasih kabar”
“Iya Mas Habib, maaf ya. Nomer HP Mas Habib hilang waktu Raya ganti HP Baru”
“Ndak papa”
“Kok Mas Habib masih simpen nomer Raya?”
“Hehe, iya”
“Mas Habib sudah menikah? Tadi kok belum jawab pertanyaan Raya?”
“Belum, tadinya mau lamar Mbak Raya. Eh udah keduluan”
“Mas Habib bisa aja”
“Anaknya Mbak Raya udah bisa apa aja?”
“Udah mulai belajar jalan”
“ Mbak Raya masih tinggal di Jakarta kan?
“Masih kok. Mas Habib masih di Tengerang?”
“Masih”
Hening
“Ya udah Mbak Raya, aku off dulu ya”
“Okay”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Kupandangi layar ponselku yang tertulis call Bidadariku ended
Arraya Nisa Wahdah, wanita yang selalu hadir di setiap mimpiku. Bagaimana aku bisa melupakanmu, sedangkan sampai detik ini aku masih sendiri. Aku masih belum berpikir untuk mencari penggantimu. Andai saja kau tahu, Cinta itu Masih Tetap Kamu.

Rabu, 05 Maret 2014

Puzzle yang Terangkai (3)





Solo, UGM, Simprug dan Arif …

Jika satu persatu puzzle masalalu tergabung, muncullah sosok dirimu. Hari ini kali pertama aku berbincang denganmu. Parasku tentu saja berbunga-bunga karena sepulang kerja aku akan mudik ke Surabaya. Aku sama sekali tak peduli apa yang kau pikirkan saat aku berada di dekatmu. Dan aku terus tersenyum bahagia.

Ternyata, dirimu enak juga diajak berbincang. Dan aku tak menyangka akan secepat ini dekat dengan seseorang. Entah apa yang Allah kehendaki terjadi antara kita. Aku hanya merasa nyaman dan cukup bahagia.

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan di setiap langkah. Jika memang Allah ridho, aku juga ridho menerima ketetapan-Nya. Bukankah hidup, rezeki, jodoh dan mati adalah hak prerogative-Nya. Tinggallah aku menjalaninya dengan segenap keikhlasan.

Terkadang memang aku merasa putus asa atas segala ikhtiar yang berujung kebuntuan. Tapi aku mesti yakin bahwa di balik itu semua Allah memiliki rahasia terindah untuk diriku.

Ya Rabb, hanya pada-Mu aku bernaung dan hanya pada-Mu aku memohon pertolongan.

Illahi syafarat yadayya fatrubhuma.

Jakarta, 5 Maret 2012

Dua tahun yang lalu, aku bertemu dengan lelaki asing yang tiba-tiba dating memasuki kehidupanku. Laki-laki yang kemudian merelakan sebagian besar waktunya untuk mendampingiku. Tak hanya kami berdua yang hidup dalam naungan cinta Allah. Ada bersama kami, buah hati kami yang sedang lucu-lucunya. Hasna Arifah Shafana, anak pertama kami yang kini berusia hampir sepuluh bulan.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin hari aku bertemu dengan sosok bernama Arif Dwi Setiawan. Namun kini ternyata telah dua tahun aku mengenalnya.

Terima kasih cintaku, suamiku tersayang, Arif Dwi Setiawan. Semoga kita selalu dalam rahmat dan berkah Allah SWT, aamiin yaa Rabb.

Jakarta, 5 Maret 2014

Senin, 09 Desember 2013

Kelucuan Hasna




Bayi yang lahir tanggal 17 Mei 2013, menjelang satu tahun usia pernikahanku. Kado terindah yang Allah berikan dalam kehangatan rumah tangga kami. Hasna terlahir dengan Caesar karena tulang panggulku yang sempit. Hasna, bayi cantik beratnya 2,925 kg dan panjangnya 48 cm.

Ketika usianya baru tiga hari, Hasna sudah bisa menjilati tangannya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Lalu dia akan menangis jika popoknya basah, baik terkena pipis maupun terkena pup. Selama tiga hari pula kami menginap di RS Hermina Daan Mogot, sebelum akhirnya kami diperbolehkan pulang. 

Ketika usianya tepat enam hari beratnya belum juga naik. Masih sekitar 2,7 kg. Ada tawaran dari dr Kadim untuk memberikan susu formula pada bayi mungilku ini. Hal ini dikarenakan Hasna masih memiliki kuning dan berat tubuhnya tak kunjung naik ke berat awal lahirnya. Namun keputusanku malah berkebalikan, aku memilih untuk ganti dokter anak. Dr Kadim terasa kaku dalam menangani pasien.

Tali pusar Hasna lepas epat ketika dia berusia satu minggu. Hasna pun belum dimandikan oleh ibuku sebelum pusarnya kering betul. Sewaktu tubuhnya terkena air, Hasna menangis. Namun ketika aku bertanya, “Mana cantiknya, Mana cantiknya?”, putri kecilku ini menghentikan tangisnya dan melirik ke kanan dan ke kiri layaknya main mata. Hal ini terjadi berulang, membuatku selalu tertawa melihatnya. Putri kecilku ini juga bisa diajak komunikasi. Ketika dia tidak mau tidur di dalam box bayi, aku selalu membujuknya  dengan mengatakan “Di luar banyak nyamuk, Hasna tidur di box ya, biar ndak digigit nyamuk”. Alhasil Hasna mau tidur di box bayinya. 

Pernah juga saat ayahnya berangkat kerja, Hasna masih tidur. Kemudian seharian aku bilang, “Tadi waktu ayah berangkat kerja Hasna tidur ya, jadi ndak tahu ayah berangkat”. Alhasil besoknya hingga saat ini Hasna tidak mau tidur sebelum melihat ayahnya berangkat kerja. Baru setelah ayahnya berpamitan,bayi cantik ini bisa tidur.

Sebulan berlalu, Hasna sudah mengenal dua kata, “He eh” dan “Ndakkkk”. Dan dia lebih sering pipis di kamar mandi dibandingkan mengompol. Kalau rewel terkadang ibuku bertanya “Mau digendong?”, Hasna menjawab, “He eh”. Namun jika dia tidak mau pipis dan aku paksa pipis di kamar mandi, dia selalu menangis sambil bilang “Ndakkkk”, namun bila dia pipis dia akan diam saja tidak menangis. Benar-benar Hasna anak pintar.

Berat Hasna pun bertambah ketika periksa ke dokter. Beratnya menjadi 3,6 kg. Dokter anak aku ganti dengan Dr Adi Kusumadi. Alhamdulillah dokternya kooperatif dan jauh lebih nyaman dibandingkan Dr Kadim. 

Pada usia 1.5 bulan, Hasna mulai memiliki hobby mengoceh. Ibuku pun kembali ke Surabaya karena aku sudah sembuh pasca Caesar. Kebiasaannya yang mau terngkurep pun mulai sering, tapi dia belum bisa tengkurep.

Pada usia hampir 3 bulan Hasna sudah bisa tengkurep. Walaupun kepalanya masih nyungsep, tapi dia sudah bisa tengkurep di satu sisi. Hasna juga bisa didudukkan di kursi yang memiliki sabuk pengaman. Hasna Hasna juga sudah bisa memainkan mainan yang berbunyi. Hasna sudah bisa main kerincingan dan ikan yang bisa bersuara ketika dipencet. Ibuku pun kembali ke Jakarta karena aku sudah harus mulai masuk kerja.

Hari pertama masuk kerja, Hasna rewel setengah hari. Tidak mau minum ASIP dalam botol. Padahal dia sudah bisa minum memakai botol, hanya saja aku memang tidak pernah meninggalkan buah hatiku dalam jangka waktu yang lama. Alhasil ibuku meminumkan ASIP dengan sendok. Namun setelah melewati siang, Hasna akhirnya mau minum ASIP dalam botol. Mungkin dia sudah kehausan karena menangis sejak pagi dan tidak mau minum ASIP. Sepulang kerja, Hasna langsung minta gendong dan nenen di aku. Sebelum nenen dia nangis tersedu-sedu, sampai hatiku tidak tega untuk meninggalkan buah hatiku kerja esok hari.

Keesokan harinya, aku pamit pada putri kecilku, “Bunda kerja dulu ya, Hasna minum susu yang banyak, biar cepat besar dan cepat pintar”. Hasna pun tidak rewel lagi. Namun sudah menjadi kebiasaannya jika dia mendengar adzan magrib dan aku belum pulang ke rumah. Hasna akan memerah matanya seraya terisak (menangis namun ditahan, bukan menangis keras).

Usia 5 bulan Hasna sudah bisa tengkurep dari sisi kanan maupun dari sisi kiri. Bahkan sudah pandai berguling-guling. Hasna juga suka naik mobil lalu melihat jalan yang penuh dengan mobil dan motor yang lalu lalang. Bahkan Hasna pernah minta untuk duduk sendiri di kursi mobil, dia sudah tidak mau dipangku.

Usia 6 bulan, Hasna sudah ingin berjalan. Sampai akhirnya aku mendapat pinjaman Apollo dari tetangga. Kini dia mulai jalan ke belakang dan kesamping dengan Apollo-nya. Hasna juga sudah tidak mau tidur jika didorong menggunakan kereta dorong Pliko. Dia lebih suka duduk untuk melihat suasana jalan yang dia lalui.

Kebiasaan Hasna yang membuatku takjub adalah seberapapun nyenyak tidurnya, Hasna akan tetap bangun jika mendengar adzan subuh dan adzan magrib. Subhanallah…

Rabu, 04 September 2013

Seberkas Kenangan





Membaca kembali “Surat untuk Mas Agung” tertanggal 7 September 2011, aku merasa kembali ke masa dua tahun yang lalu. dimana segala emosi tmpah ruah dalam sebuah cerita. Aku tak ingin mengingatnya,namun cerita itu masih menjadi satu bagian dalam kehidupanku. Cerita dimana cinta belum menemukan tempatnya di sisiku. Cerita dimana menguras airmata dan ketangguhanku. Cerita yang meluluhlantakkan hatiku. Cerita tentang seorang yang bernama Agung.

Seandainya saja saat itu dia memilihku, apa aku akan merasa bahagia seperti saat ini? Satu pertanyaan besar yang berkecamuk dalam pikiranku. Tak bisa kuelakkan, setiap wanita ingin dimanja dan disayangi. Namun apakah cintanya mampu membuatku merasakan menjadi isteri paling beruntung di dunia ini? Sungguh, Allah memberikan seorang yang jauh lebih baik untuk menggantikannya yang saat itu dekat denganku. Kepergian yang  terasa tiba-tiba, cintanya yang berganti dengan tiba-tiba pula.

Sekarang dia berbahagia dengan bidadarinya dan putri kecilnya. Aku disini pun merasa bahagia dengan keluarga kecilku. Sambutan hangat dari suamiku terasa jauh lebih indah. Seorang lelaki yang tak pernah menjalin cinta dengan wanita manapun. Dan aku bersyukur bisa mendampingi suamiku. 

Aku tak akan membandingkan dia dengan suamiku, karena bagiku dia hanya seberkas kenangan yang seharusnya telah aku lupakan. Dia hanyalah masalalu yang sempat menghampiriku, menawarkan kebahagiaan semu, lalu berakhir dengan duka.
“Surat untuk Mas Agung” hanyalah sebuah cerita masalalu. Yang menjadi satu sebab ketangguhanku. Selamat tinggal masalaluku. Aku akan kembali menyusuri kehidupanku bersama suami tercinta dan putri kecil kami yang cantik.